Gymnopedie itu Kamu.

Jika kamu adalah lagu, aku tau kamu lagu yang mana.

Kamu itu, mungkin satu dari sekian sedikit jumlah mahluk paling unik sedunia.
Kamu itu, dalam.
Memahami kamu, nggak pernah berhenti di intro dan kata pengantar. Aku butuh menyibak ribuan layers yang ada. Dimana setelahnya aku seperti menemukan dunia yang sudah lama hanya menjadi euforia. Atau wonderland. Atau dreamland.

Kamu itu, adalah warna keemasan di musim gugur.
Kamu itu, adalah nada indah dari sebuah piano di sudut ruangan. Di radius jarak dimana orang2 berlewatan lalu lalang, hingar bingar tak berjejak, tapi kamu ada disana.
Damai. Seperti lilin berwarna coklat jingga kekuningan di ruang gelap sunyi, yang jadi pelita. Yang hanya ada disana sementara. Fana.

Kamu, adalah alunan Gymnopedie No.1 – Erik Satie

Popularity: 44% [?]

Perahu Kertas(ku)

Adakah chemistry yang menjadikan kami bertiga begitu jauh masuk dan berjalan di setiap ruang Perahu Kertas, atau memang Dee, yang mampu berbicara dalam bahasa kalbu kami masing2? Sampai kita merasa ini cerita “gw banget”. Yang seperti sebuah penuturan yang sederhana, atas hidup dan likunya yang penuh rahasia.

***

Kali ini, saya nggak akan meresensi buku Perahu Kertas, itu bukan spesialisasi saya. Sesudah mengikuti Scriptwriting and Storytelling Workshop bersama tim Lux Global kemarin, saya baru nyadar bahwa Dee punya semua, dalam Perahu Kertas. Theme-nya begitu kuat, yang jadi brain of human character di ceritanya. Plotnya mengalir sangat natural, dengan Structure yang elemen2nya turut memainkan emosi pembacanya, naik turun. Melambung tinggi ke angkasa, lalu jatuh dihempas ke bawah. Bahagia tak terkira, lalu tersedu menitikkan air mata. Karakter dalam cerita sangat bersesuaian dengan peran yang dimainkan, dengan hint layers to reality yang membuatnya lebih sempurna, menarik seorang pembaca semakin tergoda untuk melangkah lebih dalam, lebih dalam, ke cerita. Indahnya. Lengkap.

Lantas beberapa waktu yang lalu, saya, Sunu, dan Wulan, bertemu dan berbagi cerita.

Dasar tiga wanita sudah terhipnotis oleh ceritanya Dee, kami berbagi cerita yang–ah, wanita banget, cerita hidup kita banget. Bedanya, bahwa Wulan sudah bertemu Keenannya. Sementara saya bersama Sunu masih meraba2, mencari2, Keenan kami masing2 ada dimana :) Kami percaya bahwa pesan2 di perahu kertas kami benar2 nyampai ke Dewa Neptunus. Perahu Kertas jadi seperti “state of the mind’, yang jadi pegangan bahwa cinta akan datang di saat yang tepat. Pun jika saat ini, path kita dan dia belum bertemu di satu titik kehidupan. Pun jika di kehidupan sekarang, path dia harus beririsan dengan paths orang lain.

Sore itu, tiga perempuan yang terbuai imaji masing2 ini pun menghanyutkan perahu kertasnya, setelah menulis wish masing2 :) Di Lower Seletar Reservoir Park saat Matahari terbenam sore itu, kita seperti jadi Kugy. Yang percaya pada mimpi dan fairytale, dan punya faith untuk hidup di dalamnya :)

Dan ajaib. Besoknya saya ketemu ’seseorang’ :)

Popularity: 41% [?]

Rayakan Hidup

Pagi ini saya bangun dengan sangat ceria. Tadi malam sahabat2 saya habis saling mengingatkan resolusi2, sudah sejauh mana kami meraih mimpi. Sesudahnya, saya mimpi indah :) Bangun pun senang sekali. Dan Sholat Shubuh yang tak terlambat membuat pagi saya semakin sempurna.

Menuju kamar mandi, yang saya bayangin adalah bahwa saya..wanita sangat spesial.. yang akan masuk ke ruangan bertabur bunga dan saatnya saya berpesta dengan busa! Lepaskan helaian yang menutupi tubuh.. rasakan udara di sekeliling ruangan.. rasakan segarnya air.. Wow..mereka menyentuh dan mengalir di kulit saya! Tuangkan shower gel ke shower puff, sedikit saja, dan..wow wow wow! Saya mandi busa! Saya mandi kelembutan! Saya mandi wangi! Bahagia sekali, Oh! :D

Biasanya saya nggak sarapan. Ya, ya, ya, nggak sehat, saya tau itu. Tapi kali ini, dalam rangka mendisiplinkan diri, saya ambil gelas dan menuangkan susu kotak dingin siap minum. Lihat! Teksturnya fine sekali. Pasti telah dibutuhkan teknologi tingkat tinggi untuk memproduksi susu jenis ini. Dan pasti susu ini sudah mempekerjakan orang2 yang berdedikasi tinggi! Production Engineer, R&D, Supply Chain, IT, Finance, dan tentu saja, Marketer! ;) Coba saya minum dulu. Glek Glek Glek. Segarnya. Terimakasih, susu! :)

Hari ini saya nggak pakai high heel seperti biasa. Sepatu teplek adalah media yang menawarkan kenyamanan kaki tiada tara. Saya pun berjalan menuju kantor, memandang langit sebelum menyeberang, wow! Langit biru! Indah sekali, Tuhan :) Saya melewati vihara, saya melewati Fort Canning Park, saya melewati gereja Sacred Heart, dalam hati saya alangkah indahnya melihat tempat ibadah berdekatan satu sama lain tanpa intrik macam2. Penganut agama yang berbeda menghormati satu sama lain, damainya, Tuhan :) Saya melewati Hawper Glass Tower, saya melewati 2 bus stop yang ada iklan parfum, laptop, dan alkoholnya, wow, communication ideas mereka OK juga! Saya melewati Raffles Academy, saya melewati udara yang..ah, segarnya nyampe ke paru2. Seolah2 saya sedang menghirup udara hutan belantara yang tiada pernah terjamah sebelumnya. Saya melewati orang2 ganteng yang menyapa saya, “Good Morning“. Dan klimaksnya.. saya melewati anjing yang sedang berjalan ke arah saya.. biasanya saya akan lari tapi tampaknya kali ini energi saya sangat baik, ditunjang oleh parfum saya yang tentu saja nggak menyengat dan sangat bersahabat, hahaha, si anjing sempat berbalik arah dan mengikuti saya tapi kemudian pas saya bilang,

“You’re not my type, dude”,

trus dia pergi, wakakakakk. Trus saya melihat Singapore Shopping Centre, ah Singapore memang penuh shopping centre dimana2, lucu sekali, Tuhan :)

Saya melewati University of Chicago. Saya melewati koridor menuju kantor, dengan air terjun buatan di sepanjang dinding bangunan VisionCrest Commercial Building (saya nggak tau namanya apa), melewati air, jernihnya.. keren sekali, Tuhan :) secara spontan rambut saya melambai2. Sementara itu, sang Satpam berucap,

“Good morning. You look great today”
“Thanks, you look even fantastic, did you cut your hair?”

, dan sesi basa basi pun melaju kencang.

Begitulah adanya. Saya masih senyum2 sama orang2 dari agency saat saya harus naik lift. Nyampe lantai 5, tempat kreativitas saya terpacu untuk diasah, setiap hari. Dan mempersiapkan semuanya untuk brainstorming workshop hari ini. Ide cantik, memang cuma bisa hadir di pikiran yang bahagia.

Ceria selalu ya! Rayakan setiap momen hidup kita :)

Popularity: 30% [?]

Category: Stories  4 Comments

Segitiga Cinta

Salah satu fase peralihan yang paling esensial dalam hidup adalah : cari rumah. Gampang-gampang susah, susah-susah mudah, seperti cari pacar. Chemistry harus ada. Kenyamanan begitu mahal harganya. Dan inilah harga yang kita bayar.

***
Nggak kerasa, 6 bulan berakhir di Singapore dan waktunya buat saya cari ‘rumah’ sendiri. Sebelumnya, kita se-batch ditempatkan di sebuah serviced apartment dimana hidup begitu mudah, segala sesuatu tersedia, maid akan datang 3x seminggu buat bersih2, handuk diganti, seprei diganti, dimana somehow saya merasa seperti saya tidak begitu terampil lagi sebagai wanita; karena kalau saya yang bersih2, si maid jadi tidak bekerja. Dan–di apartemen seperti ini, nggak banyak yang bisa diubah. Semuanya barang pinjaman, dan harus dijaga supaya tetap putih tidak bernoda. Sense of belongings-nya jadi nggak kerasa. Saya merasa kayak tinggal di hotel. Dimana temanya adalah kaku, keterbatasan, kenyamanan tingkat tinggi, dan tentu saja–sewa yang nggak kalah tinggi :)

Cerita ini kemudian menuntun saya ke satu hari dengan pengalaman viewing HDB. Di point ini, saya nggak menargetkan untuk sewa condo, supaya bisa nabung untuk masa depan :) Nah, HDB adalah Housing & Development Board, public housing authority dibawah Ministry of National Developmentnya Singapore. Untuk cari HDB, kita pakai agen yang punya database HDB yang available, dan mereka akan kasih referensi, HDB mana yang cocok sama preferensi kita. Tentu saja kita harus bayar agen, yang charge-nya bervariasi antara 1/2 sampai 1 bulan harga sewa HDB. Mulailah petualangan saya viewing dimulai. Sesudah viewing sekitar 6 hari non stop, belom ada juga yang ‘click’ sama hati nurani saya yang paling dalam. Sebenarnya ada 1 tempat yang benar2 membuat saya jatuh cinta : HDB di segitiga hal2 yang lovely : saya menyebutnya Segitiga Cinta : mesjid, community centre, dan taman-Mount Faber Park. Ini kayak lokasi Limited Edition yang susah sekali didapat, di lokasi lain di Singapore, yang mayoritas viewnya adalah gedung2 tinggi semua. Harganya cuma 1/10 dari salary saya, sangat murah. Cuma, si tenant maunya sharing kamar. Dan atas nama privacy, saya jadi mikir2 lagi :( Hingga akhirnya di suatu hari yang cerah di tanggal 20 bulan Februari, saya janjian untuk viewing 5 HDB sekaligus dalam sehari. Benar kata saya, dalam kondisi tertekan dan ngejar deadline, hidup memang lebih terpacu, haha!

HDB 1
Jam 8 pagi. Wah, nggak ada kasurnya. Tapi ada meja besar, meja kecil, kursi, lemari, AC, furnished, SGD 700. Saya harus beli kasur sendiri, tapi sesudah saya analisis tata ruang, nggak mungkin saya masukin kasur dengan space yang tersisa, sementara ownernya nggak mau kalau meja besarnya dikeluarkan saja. Tidak ada space, katanya. Sementara itu, apalah arti sebuah kamar kalau nggak ada kasur, bukan tempat tidur namanya, tapi tempat yoga :) Masa tidur di lantai? Atau tidur di meja? :)

HDB 2.
Jam 9 pagi. Seorang nenek Chinese menyambut saya dengan bahasa tubuh yang sangat welcome :
“Xin Nian Huai Le, Gong Xi, Gong Xi”, katanya. Kemudian dilanjutkan dengan obrolan dalam bahasa Chinese.
“Sorry, I couldnt speak Chinese, my grandfather was Chinese but I couldnt speak. Do you speak English?”, saya bilang. Si owner lantas menatap saya dengan tatapan kosong, hahaha.
Lantas agent menengahi, “Even little little can not ha?”, ke saya.
Saya jawab, “No, I really can not speak Chinese. But I’m willing to speak Chinese, so maybe this is my great opportunity to learn from you, auntie”, dan si Auntie menepuk pundak saya. “OK Laa..” katanya, tanpa saya yakin apakah dia mengerti yang saya bilang. Viewing berjalan aman terkendali, so far so good, kamarnya bersih, fully furnished, AC, dan yang paling penting adalah bahwa lokasinya hanya 1 blok di belakang Plaza Tiong Bahru, dimana saya cuma perlu jalan 2 menit menuju bus stop yang membawa saya ke kantor. Disini, saya bercengkerama lebih lama dengan ownernya. Karena saya perlu ngobrol ke agent, agent translate ke dia, dia ngobrol, agent translate ke saya. Hahaha. Harganya : SGD 680. Not bad. Tapi nggak boleh masak. Sama sekali. Sementara salah satu resolusi saya tahun ini adalah mengembangkan keterampilan masak memasak, dalam rangka membahagiakan suami dan bisnis makanan keluarga, kelak. Lagian, sebagai mahluk sosial yang tidak robotik, komunikasi adalah salah satu kepentingan buat saya, dan dalam hal ini adalah komunikasi dengan owner. Bagaimana saya mencipta chemistry jika kami berbicara dalam bahasa yang berbeda? :( Ah, memang nggak ada yang sempurna.

HDB 3
Jam 5 sore. Agent yang ini membawa saya ke daerah yang dekat dengan Segitiga Cinta. Tapi tampaknya si agen ini aji mumpung, harusnya dia membawa saya ke 1 tempat saja, malah membawa saya ke 3 tempat. Buat saya sih nggak masalah, tokh jadi lebih banyak pilihan. Yang nggak berkenan adalah bahwa dia membawa saya ke tempat yang nggak sesuai preferensi. Masuk ke sebuah HDB tua, seorang Ibu2 yang sedang menyetrika pakaian segera menyambut dengan ceria. Dua orang putrinya, mungkin usia 12 dan 14, segera menyambut saya dengan nggak kalah ceria. Kita lantas viewing. Kamar sih OK. Semua OK. Tapi kemudian yang mengganjal, jika di unit tersebut ada 2 kamar; 1 kamar sudah disewa tenant lain, dan 1 kamar lagi akan disewakan ke saya, lantas keluarga ini tidur dimana? Ibunya pun menjawab, dengan English yang tertatih2.. “my daughters sleep here.. (menunjukkan sofa) “and I sleep here..”(menunjukkan kursi di sebelah meja seterika). Astaghfirullah, betapa saya ingin membantu keluarga ini, nggak tega rasanya. Beban ekonomi mengharuskan mereka menyewakan kamar yang ada, sementara mereka nggak tidur di kamar. Saya jadi mau nangis di tempat. Nggak mungkin saya tinggal disana; dengan keadaan saya enak2 tidur di kamar, dan mereka di luar. Saya pun segera beranjak. Semoga Allah memberikan solusi terbaik buat keluarga ini, mungkin bukan via saya. Sepanjang perjalanan, saya kepikiran terus.

HDB 4
Jam 6 sore. Seorang pria gendut penuh tattoo dengan perut buncit telanjang-cuma pake celana pendek menyambut saya. Saya udah bad feeling saja, saat melihat di HDB 3 kamar tersebut, beliau menjelaskan bahwa tempat tersebut adalah yang paling bagus sedunia buat saya. Saya mengangguk2 saja, senyum2. Kemudian beliau menjelaskan bahwasanya di rumah tersebut tinggal 9 orang pria (berarti 1 kamar dihuni 3 orang?) dan mereka semua sangat dekat satu sama lain. Ah, tempat ini good for nothing, dalam hati saya. Saya bilang bahwa saya masih harus viewing, jadi saya akan mempertimbangkan dulu, sebelum akhirnya pria tersebut seperti setengah memaksa, kembali meyakinkan bahwa tempat tersebut adalah yang terbaik dan saya akan menyesal jika tidak langsung kasih deposit. Oh, God. Di titik ini bakat negosiasi saya benar2 keluar mencapai puncak, saya akhirnya bisa keluar dari kamar tempat saya viewing, beranjak keluar. Ternyata perjuangan belum selesai. Di ruang tamu yang penuh dengan kasur, beliau kembali mengatakan bahwa dia bisa memberikan apapun buat saya: mau masak boleh, pake kulkas boleh, mesin cuci boleh, semua boleh, bahkan hidupnya pun akan diberikan buat saya! Saya mengernyit, apa yang membuat orang ini begitu dramatis dan putus asa? Apakah hidupnya memang penuh penolakan, sehingga ia seperti tidak punya satu kualitas lain yang bisa dibanggakan? Setengah menangis, beliau menceritakan 2 orang anaknya yang sekarang sudah berusia 23 dan 26 tahun yang sudah pergi entah kemana, tidak pernah menjawab telepon, dan istrinya pun meninggalkannya. “26 years I grew them up and now this is what they do to me.. there’s no body care about me anymore so I give my life to you..” Dengan susah payah akhirnya saya keluar dari tempat itu.

HDB 5
Wanita Chinese single berusia 40an yang living alone, nggak bisa bahasa Ingrris sama sekali. Yang menarik adalah bahwa di rumah wanita ini, ada foto pria yang masih ada lilin dan dupanya, plus karangan bunga. Tampak beliau yang di foto baru meninggal. Saya nggak yakin dengan itu. Dan dia bercerita pada si agen dengan mata berkaca2. Pilu.

Ah, Tuhan. Memang berbagi cara Engkau tunjukkan buatku belajar. Saya yang tadinya condong ke HDB 2 yang sangat nyaman, kemudian memikirkan ulang HDB yang berada di segitiga cinta itu. Saya nggak keberatan sharing kamar. Jika tadinya saya membatasi diri saya atas nama privacy, saya jadi memikirkan kembali, keluarga yang nggak tidur di kamar itu, atau yang 1 whole unit di isi 9 orang. Room mate saya di segitiga cinta adalah orang Indonesia Chinese. Semoga saya nggak pernah kekurangan ide untuk menyesuaikan frekuensi saya dan dia. Apalah privacy. Tokh dipandang dari atas sana, nggak ada yang bisa kita tutupin. Dan satu doa saya : semoga semakin banyak jiwa yang terbantu. Saya membayar lebih sedikit untuk akomodasi, berarti saya harus bayar lebih banyak untuk investasi. Investasi akhirat :)

Popularity: 33% [?]

Resolute

Pemirsa, maafkanlah hendaknya jika postingan kali ini tidak representatif dengan judul, hahaha.

Sebagaimana yang telah diwangsitkan dalam Siaware, bahwa mimpi2 akan lebih terasa hidup saat dibagi. Bahwa saat kita membiarkan orang lain mengetahui dan mengingat mimpi2 kita, seperti ada kekuatan lain yang ikut mendukung, dorongan yang lebih kuat, inspirasi yang lebih terasa, dan perasaan yang terasa lebih mendebarkan bersamaan dengan jalan yang kita tempuh telah semakin panjang. Maka dari pada itu, di peralihan tahun 2009 ke tahun 2010, saya yang bernama Yessi Pratiwi telah berbagi resolusi dengan sahabat2 terbaik saya, dan sebaliknya, sahabat2 saya yang cantik, ganteng2, determined, baik hati, rajin sholat, tekun, ceria, penuh kesabaran, juga berbagi resolusi2 mereka. Sederhana saja, kami berbagi via message Facebook. Dalam hal ini, memang teknologi telah memudahkan jalan kami, huehehe. Terimakasih, Facebook–berkatmu, serasa aku begitu dekat dengan teman2 nun jauh disana, dan orang2 yang saya ingin dekati, wkwkwk.

Maka dengan ini, dengan dilandasi doa yang kuat, motivasi yang keras, mimpi yang setinggi bintang, dan tekad yang terpancang di dalam hati (hueks), serta diiringi oleh doa kepada Tuhan Yang Maha Mengabulkan, saya umumkan bahwasanya Andri, Galuh, Bimas, dan Algon telah menjadi orang2 yang beruntung, yang saya percaya dapat mengingatkan resolusi2 saya, hehehe. Kami berbagi resolusi dan telah mencanangkannya sebagai bagian dari mimpi, tujuan hidup, destiny, jalan yang kami inginkan dan kami Aminkan akan dikabulkan olehNya. Dan tentu saja, kami saling mengingatkan satu sama lain, sudah berapa persen mimpi kami tercapai, apakah si anu berjalan di tempat atau bergerak dengan percepatan konstan? :)

Indah ya. Berbagi mimpi. Dan saat mimpi2 itu benar2 terrealisi, seperti ada yang ikut menangis bahagia. Pun kalau belum tercapai, kita masih bersama untuk resolusi2 selanjutnya. Ya nggak, sahabat? :D

Yuk, bagi resolusimu juga! Berikan nafas bagi mimpi2mu, sehingga dia ‘hidup’ dan terasa nyata. Selamat bermimpi!

Popularity: 26% [?]

You can Always Say No

Untuk sesuatu yang nggak kamu inginkan.
Yang nggak kamu nikmati.
Yang terasa aneh, terasa nggak nyaman.
Yang kamu rasa bukan sesuatu yang kamu cari.
Yang kalo kamu terus lakuin, kamu malah nggak bisa jadi diri kamu sendiri.

You can always say No.
You can always say No, biarpun menurut orang lain itu nggak mungkin.

Nggak ada yang nggak mungkin.
Kemungkinan sekecil apapun, berarti mungkin kan?

So, if you think really deserve it, go for it.
otherwise, if you think you dont deserve it, go say “No”

Simple, isnt it?

Popularity: 34% [?]

Category: The Pieces of Puzzles  Tags:  6 Comments

Carribean Dance

Pernah nggak punya ide, bagaimana kesepian yang sangat memuncak benar-benar bisa membuat seseorang menjadi gila? Apalagi jika hati ‘kosong’ dan detik-detik jam dilalui dengan aktivitas yang sama : bangun, bekerja, duduk di meja, menjawab email, membalas telefon, meeting, presentasi, pulang, tidur, dan besok melakukan hal yang sama. Kondisi kayakgini, nggak bisa jauh dari kalut. Mungkin ini juga yang jadi awal penyebab stress.

Saya nggak sedang stress koq. Cuma, akhir-akhir ini saya semakin menyadari, betapa hidup di negeri orang, tanpa sanak saudara dan teman, sepi rasanya. Dan akan semakin terasa sepi saat kita butuh seseorang, kita nggak menemukan seseorang pun yang bisa membuat kita cheer-up lagi barang sejenak. Sepi, saat kita dilimpahi rezeki dan nggak menemukan siapapun untuk berbagi kebahagiaan karena sekeliling kita adalah orang2 yang dompetnya sudah lebih tebal daripada buku Davinci Code, yang tentunya nggak membutuhkan traktiran. Kalau sudah begini, saya biasanya melarikan diri ke teh, musik, kopi, film, atau buku.

Carribean Nah, saya punya teh baru nih. Dapet dari Sentosa, pas jalan2 di sebuah toko yang menjual aneka produk organik dalam kemasan. Carribean Dance, judulnya. Harganya cuma $SGD 10, tapi aromanya, hmm.. Voila! Seperti halnya Carribean Dance, passionnya seperti menggugah tubuh dan pikiran untuk bertepuk-tepuk, ceria, bersemangat, dan menikmati setiap ketukan. Yang seperti bilang, “Hei, cheer up! Giliran kamu untuk menari dan menggeliat!”. Ah, nikmatnya.

Dengan tagline, “The Tea of Life”, matching banget yah dengan tugasnya sebagai penghibur dan pemberi ketenangan buat hidup saya :)
Dan seiring dengan kewajiban2 yang berkejaran dengan waktu, kenapa nggak coba menikmati teh? Menghirup aromanya, mengingat masa-masa indah bersama orang-orang terkasih dan menghadirkan mereka dalam sekejap. Dimana seketika itu sepi cuma bisa menjadi kata sifat yang ada di Thesaurus, tapi nggak ada di kamus kita :)

Popularity: 32% [?]

Too Sad To Be True

Dan kisah wanita wanita yang direndahkan. Polos, bodoh, tidak tau harus berbuat apa. Dan hanya punya airmata. Seperti saya sekarang, menangis.

***

cvcv

Dada saya begitu sesak seperti sesuatu bergejolak di dalam sana. Kali ini saya sendiri kaget, seperti saya sedang sangat sensitif, bahkan air mata menjadi sesuatu yang tumpah begitu saja. Iya, saya menangis. Bukan karena cerita patah hari atau romantika yang mendayu-dayu ala film India. Tapi film Perempuan Punya Cerita yang baru selesai saya tonton dan menyita semua ruang pikiran di otak. Sesak. Dan sesak ini nggak ada hubungannya sama keterlambatan saya nonton film ini.

Terlepas dari keberadaan Perempuan Punya Cerita yang menurut saya hanya menampilkan fenomena2 kekalahan dan kepolosan dan ketidakberdayaan tanpa adanya tendensi encouragement bagi perempuan untuk bangkit, melawan, memberontak, rasanya bagian yang masih bisa dijadikan pelajaran adalah bahwa inilah fenomena. Dan ini terjadi. Di setiap penjuru negeri, dari 4 kutub dunia, pada perempuan. Kenapa perempuan? Bahkan ketika saya masukin keyword “perempuan” di Google pun yang muncul adalah dominansi pencarian ber-asoasiasi negatif yang menjurus ke eksploitasi perempuan; bugil lah, seksi lah, mandi lah, Ck ck ck..

Jika kemudian perempuan hanya dihargai sebatas kecantikan lahiriah yang pasti akan mengendor oleh gravitasi, apakah pria masih punya spesies yang bisa menghargai wanita dengan cara yang lain? Ah, saya masih ragu.

Ini bukan kesimpulan. Dan saya tidak ingin menyimpulkan pada bagian ini.

Cheers,
2.55AM
Sambil mandangin gedung2 dibalik jendela yang lagi dibangun dan masih dikerjain aja pagi2 buta begini. Ah, ini diluar konteks. Selamat malam. Eh, Selamat pagi, maksud saya.

Popularity: 26% [?]

Born Again

Ah, life’s been chaotic, hustling, and bustling. But once Frank Sinatra said, “If you can make it here, you can make it anywhere”. Simply my mind assured me, that if I can make one miracle, I can make another one.

I was born just one day after Christmas where Yesus was born. Does this mean anything? Yes, indeed! It’s easier for some people to recall my birthday. And one thing for sure, I always believe that I’m special like Yesus :)

Oh, Happy Birthday to me. Life’s though, but it’s great. Let’s growing old gracefully. And gratefully. Toward the destiny.

..Thank you Allah..

Popularity: 34% [?]

Soulmate

But how will I know who my Soulmate is?”

“By taking risks. By risking failure, disappoinment, disillusion, but never ceasing in your search for Love. As long as you keep looking, you will triumph in the end.”

-Paulo Coelho, Brida-

Popularity: 43% [?]