Archive for the Category »The Pieces of Puzzles «

You can Always Say No

Untuk sesuatu yang nggak kamu inginkan.
Yang nggak kamu nikmati.
Yang terasa aneh, terasa nggak nyaman.
Yang kamu rasa bukan sesuatu yang kamu cari.
Yang kalo kamu terus lakuin, kamu malah nggak bisa jadi diri kamu sendiri.

You can always say No.
You can always say No, biarpun menurut orang lain itu nggak mungkin.

Nggak ada yang nggak mungkin.
Kemungkinan sekecil apapun, berarti mungkin kan?

So, if you think really deserve it, go for it.
otherwise, if you think you dont deserve it, go say “No”

Simple, isnt it?

Popularity: 34% [?]

Category: The Pieces of Puzzles  Tags:  6 Comments

Carribean Dance

Pernah nggak punya ide, bagaimana kesepian yang sangat memuncak benar-benar bisa membuat seseorang menjadi gila? Apalagi jika hati ‘kosong’ dan detik-detik jam dilalui dengan aktivitas yang sama : bangun, bekerja, duduk di meja, menjawab email, membalas telefon, meeting, presentasi, pulang, tidur, dan besok melakukan hal yang sama. Kondisi kayakgini, nggak bisa jauh dari kalut. Mungkin ini juga yang jadi awal penyebab stress.

Saya nggak sedang stress koq. Cuma, akhir-akhir ini saya semakin menyadari, betapa hidup di negeri orang, tanpa sanak saudara dan teman, sepi rasanya. Dan akan semakin terasa sepi saat kita butuh seseorang, kita nggak menemukan seseorang pun yang bisa membuat kita cheer-up lagi barang sejenak. Sepi, saat kita dilimpahi rezeki dan nggak menemukan siapapun untuk berbagi kebahagiaan karena sekeliling kita adalah orang2 yang dompetnya sudah lebih tebal daripada buku Davinci Code, yang tentunya nggak membutuhkan traktiran. Kalau sudah begini, saya biasanya melarikan diri ke teh, musik, kopi, film, atau buku.

Carribean Nah, saya punya teh baru nih. Dapet dari Sentosa, pas jalan2 di sebuah toko yang menjual aneka produk organik dalam kemasan. Carribean Dance, judulnya. Harganya cuma $SGD 10, tapi aromanya, hmm.. Voila! Seperti halnya Carribean Dance, passionnya seperti menggugah tubuh dan pikiran untuk bertepuk-tepuk, ceria, bersemangat, dan menikmati setiap ketukan. Yang seperti bilang, “Hei, cheer up! Giliran kamu untuk menari dan menggeliat!”. Ah, nikmatnya.

Dengan tagline, “The Tea of Life”, matching banget yah dengan tugasnya sebagai penghibur dan pemberi ketenangan buat hidup saya :)
Dan seiring dengan kewajiban2 yang berkejaran dengan waktu, kenapa nggak coba menikmati teh? Menghirup aromanya, mengingat masa-masa indah bersama orang-orang terkasih dan menghadirkan mereka dalam sekejap. Dimana seketika itu sepi cuma bisa menjadi kata sifat yang ada di Thesaurus, tapi nggak ada di kamus kita :)

Popularity: 32% [?]

Too Sad To Be True

Dan kisah wanita wanita yang direndahkan. Polos, bodoh, tidak tau harus berbuat apa. Dan hanya punya airmata. Seperti saya sekarang, menangis.

***

cvcv

Dada saya begitu sesak seperti sesuatu bergejolak di dalam sana. Kali ini saya sendiri kaget, seperti saya sedang sangat sensitif, bahkan air mata menjadi sesuatu yang tumpah begitu saja. Iya, saya menangis. Bukan karena cerita patah hari atau romantika yang mendayu-dayu ala film India. Tapi film Perempuan Punya Cerita yang baru selesai saya tonton dan menyita semua ruang pikiran di otak. Sesak. Dan sesak ini nggak ada hubungannya sama keterlambatan saya nonton film ini.

Terlepas dari keberadaan Perempuan Punya Cerita yang menurut saya hanya menampilkan fenomena2 kekalahan dan kepolosan dan ketidakberdayaan tanpa adanya tendensi encouragement bagi perempuan untuk bangkit, melawan, memberontak, rasanya bagian yang masih bisa dijadikan pelajaran adalah bahwa inilah fenomena. Dan ini terjadi. Di setiap penjuru negeri, dari 4 kutub dunia, pada perempuan. Kenapa perempuan? Bahkan ketika saya masukin keyword “perempuan” di Google pun yang muncul adalah dominansi pencarian ber-asoasiasi negatif yang menjurus ke eksploitasi perempuan; bugil lah, seksi lah, mandi lah, Ck ck ck..

Jika kemudian perempuan hanya dihargai sebatas kecantikan lahiriah yang pasti akan mengendor oleh gravitasi, apakah pria masih punya spesies yang bisa menghargai wanita dengan cara yang lain? Ah, saya masih ragu.

Ini bukan kesimpulan. Dan saya tidak ingin menyimpulkan pada bagian ini.

Cheers,
2.55AM
Sambil mandangin gedung2 dibalik jendela yang lagi dibangun dan masih dikerjain aja pagi2 buta begini. Ah, ini diluar konteks. Selamat malam. Eh, Selamat pagi, maksud saya.

Popularity: 26% [?]

Born Again

Ah, life’s been chaotic, hustling, and bustling. But once Frank Sinatra said, “If you can make it here, you can make it anywhere”. Simply my mind assured me, that if I can make one miracle, I can make another one.

I was born just one day after Christmas where Yesus was born. Does this mean anything? Yes, indeed! It’s easier for some people to recall my birthday. And one thing for sure, I always believe that I’m special like Yesus :)

Oh, Happy Birthday to me. Life’s though, but it’s great. Let’s growing old gracefully. And gratefully. Toward the destiny.

..Thank you Allah..

Popularity: 33% [?]

Pulang

Lebih dari enam tahun sejak saya menjejakkan kaki pertama kali di Pulau Jawa. Enam tahun, setelah warna warni cerita–susah senang yang jika dituliskan ke sebuah buku atau novel, mungkin akan sangat membingungkan; terlalu banyak aktor, terlalu banyak tempat yang berbeda, terlalu banyak keluh kesah. Banyak cerita. Bagaimana mulanya seorang anak manusia yang ingin masuk Fakultas Ilmu Komputer UI terdampar di jurusan yang salah hingga harus mengulang SPMB sebelum akhirnya masuk ITB. Ah, tentu saja hidup kita semua istimewa.

Selama itu saya tidak pulang. Well, walaupun saya tinggal di Bandung selama 5 tahun, saya menganggapnya rumah kedua saja. Balige, kota kecil di pinggiran danau Toba adalah rumah saya. Dimana orangtua saya berada.

Jadi, 16 Oktober saya menjejakkan kaki disini lagi.

SDC10936 Seiring umur yang juga sudah bertambah 6 tahun, seharusnya banyak hal yang berubah dan mengubah wajah kota. Ternyata tidak sama sekali. Masih nggak ada mall disana. Sepanjang mata memandang masih sawah hijau. Cuma cat rumah yang sudah mengusam. Dan waktu yang telah berlalu, yang seketika melingkarkan cincin di jari manis teman2 masa kecil. Waktunya menikah dan membina keluarga, untuk sebagian orang.

Ah, hidup rasanya jadi begitu singkat. Rasanya masih seperti kemarin saja. Kerinduan akan pulang sedikit terobati. Inilah seni merantau. Kita belajar sangat banyak hal; mandiri, teruji, mencoba jadi pribadi yang lebih baik. Bukan berarti kita nggak bisa belajar di tanah kelahiran sendiri, tapi keluar dari zona nyaman dan menguji, sejauh apa kita bisa bertahan, sedalam apa komitmen kita tertanam. Karena di perantauan, kita hidup sendiri dan jauh dari orang2 yang kita sayang. Dunia orang lain yang kemudian menjadi dunia kita juga. Dan seolah-olah saat kita pulang, kita telah berubah jadi pribadi yang sangat jauh berbeda; yang sukses, yang didambakan lelaki sekampung, yang menjadi tokoh idola adik2.

3stars of 7stars Dua malam saja saya habiskan disana. Dua malam, dan begitu banyak kenangan yang berputar kembali. Tentang pertemuan dengan Erika dan Cinda–Part of 7Stars. Tetangga yang memeluk cium. Guru kepala sekolah yang masih saja mengelu-elukan saya, sebagai anak kebanggaan Pak Surya Budhi. Dan ayah seorang teman yang tidak tau bahwa akhirnya saya memilih ITB, dan tetap mengira bahwa saya sudah jadi seorang dokter. Dan paman, bibi, beserta ponakan yang bilang sekarang saya cantik seperti artis Korea. Hahaha! Apakah saya dulu memang jelek sekali? :-)

Waktu weekend terasa sangat singkat, karena perjalanan Medan-Balige saja hampir 6,5 jam. Dan dua malam yang saya habiskan di Medan kemarin tampaknya mengisyaratkan pertemuan kedua. Akhir November saya akan pulang lagi. Ayo, para perantau! Pulanglah, kunjungi kampung halaman. Membawa hati yang haus kasih, dan pulang dengan kobaran semangat di dada.

Ohya, ada oleh2 foto Danau Toba yang saya jepret dari dalam bis yang melaju kencang. Lain kali, saya bawa oleh2 yang lebih dahsyat! :-D

Popularity: 52% [?]

Hati. Bicara. Jujur. Mungkin. Dia. Lelah.

SDC10624 Diam saja kadang tidak cukup.
Untuk mengungkap sesuatu yang kita percaya dapat mengubah kenyataan, butuh keberanian dan tekad bulat, keluar dari zona nyaman dan siap menanggung akibat.
Tapi saat kita bermain dengan kebahagiaan orang lain, apakah kompromi memang jalan satu2nya? Kenapa? Kenapa harus ada pengorbanan? Kenapa juga orang lain yang harus bahagia?

Saya tidak percaya dengan sad ending.
Untuk semua orang.
Jika saya bahagia, dia juga pasti bisa bahagia.
Dia juga pasti bisa bahagia.
Dengan dan tanpa saya.

Popularity: 52% [?]

Unwanted Kisses

Hari ini saya nyampe kantor lebih pagi. Senin yang bersemangat. Taruh laptop di meja, pasang charger, sambil log-in ke office phone.

Nggak berapa lama, 2 orang pria ganteng menghampiri. Yang satu mirip Chuck Bass! :D

Hello, could you help us, how to make an international call from this land phone?”
“Oh, sure. First you have to dial 9, followed by 019, country code, and destination number”
“Oh..9, 019, code, and the number, right? OK, thanks!”
“No problem”

Mereka pun menjauh dari meja saya. Nggak berapa lama kemudian, sesudah siangan dikit, kantor rame. Oh well, tampaknya 2 cowo ini memang pernah kerja disini, mungkin relocated to other country. Mereka sangat akrab dengan karyawan lain. Cipika cipiki. Tapi cipika cipiki nya bunyi “Mwuahh” basah gitu. Mungkin salamnya orang Brazil memang begitu. Hahaha. Semua yang datang hari itu diciumin. Tampaknya mereka memang udah kangen banget. Untung saya baru, makanya saya nggak dicium juga.

GOSSIP GIRL Eh kemudian manajer saya datang. Memanggil saya dan mengenalkan kepada 2 orang pria tadi. Apa yang saya takutkan kemudian terjadi. Mereka memeluk saya dan mencium pipi kanan-pipi kiri dengan bunyi “Mwuach” yang sama. Basah dan bibirnya benar2 nempel ke pipi. Tidaaaakkkk!

Hingga beberapa detik sesudah berkenalan, saya masih shocked. O mai gat. I’m just kissed by strangers. Rasanya tidak enak. Karena ada suaranya, “Mwuachh” :(

Popularity: 55% [?]

Masakan Tanpa Garam

Masak tanpa garam? Kalau dulu saya menganggapnya nggak mungkin, sekarang harus percaya deh kalau ternyata, bisa-bisa aja. Screenshoot berikut tampak menggugah selera kan? ;)

SDC10474 Minggu lalu Edo datang. Saya menyebut waktu kedatangannya nggak efisien, karena saya sudah masuk kerja sejak Selasa (22/9) dan Edo masih liburan Lebaran hingga seminggu ke depannya. Nah, pas saya lagi kerja, doi iseng2 belanja ke Plaza Singapura yang letaknya persis di depan kantor, dan menyambut saya pulang dengan pernyataan, “Kanda cari garam di Carrefour nggak ada lho.. Udah ditanya juga ke petugasnya, memang gak ada!”. Malam itu, kita pun masak tanpa garam dan makan tanpa suara. Cuma saling memandang dan mengunyah. Makanannya kombinasi antara jamur-kacang panjang-tomat-cinta, jadi aja rasa cinta. Nasinya rasa nasi, tentu saja. Wakwakwak..

Minggu kemaren Edo udah pulang. Malam ini, saya pulang kantor dan buka kulkas. Masuk ke dapur, ternyata bukan cuma kenangan bermesraan selagi masak aja yang tersisa di dapur; sayuran sisa masak kemaren juga tersisa, hahaha! Jadi saja saya masak. Lumayan, malam ini nggak usah makan diluar. Biarpun nggak pake garam, rasanya lumayan enak koq! Mungkin karena sayurannya memang berasa cinta. Hahaha :D

Popularity: 50% [?]

Maaf, Aku Cuma Bisa Minta Maaf

Lebaran
Orang bisa dikenal sebagai predikat yang macam2.

Aku,
Bukan teman yang paling baik.
Bukan wanita yang patut dijadikan teladan.
Bukan sahabat yang diacungin jempol.
Bukan pacar idaman.
Bukan kakak yang sempurna.
Bukan adik yang penurut.
Bukan anak yang berbakti.
Tapi aku akan selalu membenahi diri untuk menjadi lebih baik setiap hari :)

Aku mau memandang ke depan dan memaafkan diri. Dan kalian. Dan Bandung. Dan Indonesia. Dan yang tersakiti, even if you have to heal yourself from the hurt you don’t deserve.
And since forgiving is not forgetting,
I’ll try to hurt no one again.

Minal Aidin Walfaidzin. Selamat menjadi suci kembali :)

Popularity: 45% [?]

Antara Penang Road dan UE Square

Terhampar jalan beraspal yang kita lewati setiap hari.
Kali ini, 22.45.
Kita berjalan dengan keringat membasah dan lelah,
bertukar cerita tentang hari itu.
Hingga di sudut yang temaram,
di pertengahan jalan yang tiada siapapun berada disana,
seorang pria mencegat,

“Excuse me, do U have Dollars to give me? I don’t have money to go home”
Saya dan Simpirre refleks menggeleng. Dan tancap gas, langkah seribu.

Mukanya tidak menakutkan.

Yang membuat kami berlari kemudian karena dia berdiri di pertengahan jalan panjang dan sepi.
Yang gelap, hanya dengan lampu temaram, dengan bayangan pohon sana sini.
Yang jika sesuatu terjadi dengan kami, tiada siapapun tau, kecuali vihara berwana cerah nan bisu disebelahnya.

Ah, entah kenapa aku jadi merasa berdosa.
Dia minta tolong dan aku menidakkan.

Apakah aku mulai tidak berperikemanusiaan?

Popularity: 44% [?]