Archive for the Category »Beyond The Words «

There They Are.

Jane Austen pernah bilang dalam salah satu bukunya,

Friendship is certainly the finest balm for the pangs of disappointed love

Cuman, saya menemukan bahwa kata “Love” di kalimatnya bisa digantikan sama banyak kata2 lain. Passion. Appreciation. Respect. Relationship. Worship. Sacrifice. Life. Saya sih bilang, untuk setiap momen hidup, kita butuh temen. Yang pada akhirnya , teman adalah seseorang yang tidak sempurna yang mengingatkan dengan sempurna.

Terimakasih, Nicolaus. Untuk email sederhana yang sangat bermakna. Buat saya.

Popularity: 24% [?]

Pause.

Berhenti dulu dari pikiran ruwet.
Lupakan sejenak deadline dan gate timing.

Boleh kan, nggak mikirin apapun sebentar saja?
Untuk menghirup kembali aroma laut dan merasakan matahari.
Untuk berjauhan dari MRT dan menginjakkan kaki telanjang lagi di Bumi.


Pause.
Sementara saja.
Dari high heels dan laptop.
Dari market share report dan target.
Dari power point dan urusan agency.

Untuk recharged dan revived kembali. Esok hari :)

Popularity: 37% [?]

Segitiga Cinta

Salah satu fase peralihan yang paling esensial dalam hidup adalah : cari rumah. Gampang-gampang susah, susah-susah mudah, seperti cari pacar. Chemistry harus ada. Kenyamanan begitu mahal harganya. Dan inilah harga yang kita bayar.

***
Nggak kerasa, 6 bulan berakhir di Singapore dan waktunya buat saya cari ‘rumah’ sendiri. Sebelumnya, kita se-batch ditempatkan di sebuah serviced apartment dimana hidup begitu mudah, segala sesuatu tersedia, maid akan datang 3x seminggu buat bersih2, handuk diganti, seprei diganti, dimana somehow saya merasa seperti saya tidak begitu terampil lagi sebagai wanita; karena kalau saya yang bersih2, si maid jadi tidak bekerja. Dan–di apartemen seperti ini, nggak banyak yang bisa diubah. Semuanya barang pinjaman, dan harus dijaga supaya tetap putih tidak bernoda. Sense of belongings-nya jadi nggak kerasa. Saya merasa kayak tinggal di hotel. Dimana temanya adalah kaku, keterbatasan, kenyamanan tingkat tinggi, dan tentu saja–sewa yang nggak kalah tinggi :)

Cerita ini kemudian menuntun saya ke satu hari dengan pengalaman viewing HDB. Di point ini, saya nggak menargetkan untuk sewa condo, supaya bisa nabung untuk masa depan :) Nah, HDB adalah Housing & Development Board, public housing authority dibawah Ministry of National Developmentnya Singapore. Untuk cari HDB, kita pakai agen yang punya database HDB yang available, dan mereka akan kasih referensi, HDB mana yang cocok sama preferensi kita. Tentu saja kita harus bayar agen, yang charge-nya bervariasi antara 1/2 sampai 1 bulan harga sewa HDB. Mulailah petualangan saya viewing dimulai. Sesudah viewing sekitar 6 hari non stop, belom ada juga yang ‘click’ sama hati nurani saya yang paling dalam. Sebenarnya ada 1 tempat yang benar2 membuat saya jatuh cinta : HDB di segitiga hal2 yang lovely : saya menyebutnya Segitiga Cinta : mesjid, community centre, dan taman-Mount Faber Park. Ini kayak lokasi Limited Edition yang susah sekali didapat, di lokasi lain di Singapore, yang mayoritas viewnya adalah gedung2 tinggi semua. Harganya cuma 1/10 dari salary saya, sangat murah. Cuma, si tenant maunya sharing kamar. Dan atas nama privacy, saya jadi mikir2 lagi :( Hingga akhirnya di suatu hari yang cerah di tanggal 20 bulan Februari, saya janjian untuk viewing 5 HDB sekaligus dalam sehari. Benar kata saya, dalam kondisi tertekan dan ngejar deadline, hidup memang lebih terpacu, haha!

HDB 1
Jam 8 pagi. Wah, nggak ada kasurnya. Tapi ada meja besar, meja kecil, kursi, lemari, AC, furnished, SGD 700. Saya harus beli kasur sendiri, tapi sesudah saya analisis tata ruang, nggak mungkin saya masukin kasur dengan space yang tersisa, sementara ownernya nggak mau kalau meja besarnya dikeluarkan saja. Tidak ada space, katanya. Sementara itu, apalah arti sebuah kamar kalau nggak ada kasur, bukan tempat tidur namanya, tapi tempat yoga :) Masa tidur di lantai? Atau tidur di meja? :)

HDB 2.
Jam 9 pagi. Seorang nenek Chinese menyambut saya dengan bahasa tubuh yang sangat welcome :
“Xin Nian Huai Le, Gong Xi, Gong Xi”, katanya. Kemudian dilanjutkan dengan obrolan dalam bahasa Chinese.
“Sorry, I couldnt speak Chinese, my grandfather was Chinese but I couldnt speak. Do you speak English?”, saya bilang. Si owner lantas menatap saya dengan tatapan kosong, hahaha.
Lantas agent menengahi, “Even little little can not ha?”, ke saya.
Saya jawab, “No, I really can not speak Chinese. But I’m willing to speak Chinese, so maybe this is my great opportunity to learn from you, auntie”, dan si Auntie menepuk pundak saya. “OK Laa..” katanya, tanpa saya yakin apakah dia mengerti yang saya bilang. Viewing berjalan aman terkendali, so far so good, kamarnya bersih, fully furnished, AC, dan yang paling penting adalah bahwa lokasinya hanya 1 blok di belakang Plaza Tiong Bahru, dimana saya cuma perlu jalan 2 menit menuju bus stop yang membawa saya ke kantor. Disini, saya bercengkerama lebih lama dengan ownernya. Karena saya perlu ngobrol ke agent, agent translate ke dia, dia ngobrol, agent translate ke saya. Hahaha. Harganya : SGD 680. Not bad. Tapi nggak boleh masak. Sama sekali. Sementara salah satu resolusi saya tahun ini adalah mengembangkan keterampilan masak memasak, dalam rangka membahagiakan suami dan bisnis makanan keluarga, kelak. Lagian, sebagai mahluk sosial yang tidak robotik, komunikasi adalah salah satu kepentingan buat saya, dan dalam hal ini adalah komunikasi dengan owner. Bagaimana saya mencipta chemistry jika kami berbicara dalam bahasa yang berbeda? :( Ah, memang nggak ada yang sempurna.

HDB 3
Jam 5 sore. Agent yang ini membawa saya ke daerah yang dekat dengan Segitiga Cinta. Tapi tampaknya si agen ini aji mumpung, harusnya dia membawa saya ke 1 tempat saja, malah membawa saya ke 3 tempat. Buat saya sih nggak masalah, tokh jadi lebih banyak pilihan. Yang nggak berkenan adalah bahwa dia membawa saya ke tempat yang nggak sesuai preferensi. Masuk ke sebuah HDB tua, seorang Ibu2 yang sedang menyetrika pakaian segera menyambut dengan ceria. Dua orang putrinya, mungkin usia 12 dan 14, segera menyambut saya dengan nggak kalah ceria. Kita lantas viewing. Kamar sih OK. Semua OK. Tapi kemudian yang mengganjal, jika di unit tersebut ada 2 kamar; 1 kamar sudah disewa tenant lain, dan 1 kamar lagi akan disewakan ke saya, lantas keluarga ini tidur dimana? Ibunya pun menjawab, dengan English yang tertatih2.. “my daughters sleep here.. (menunjukkan sofa) “and I sleep here..”(menunjukkan kursi di sebelah meja seterika). Astaghfirullah, betapa saya ingin membantu keluarga ini, nggak tega rasanya. Beban ekonomi mengharuskan mereka menyewakan kamar yang ada, sementara mereka nggak tidur di kamar. Saya jadi mau nangis di tempat. Nggak mungkin saya tinggal disana; dengan keadaan saya enak2 tidur di kamar, dan mereka di luar. Saya pun segera beranjak. Semoga Allah memberikan solusi terbaik buat keluarga ini, mungkin bukan via saya. Sepanjang perjalanan, saya kepikiran terus.

HDB 4
Jam 6 sore. Seorang pria gendut penuh tattoo dengan perut buncit telanjang-cuma pake celana pendek menyambut saya. Saya udah bad feeling saja, saat melihat di HDB 3 kamar tersebut, beliau menjelaskan bahwa tempat tersebut adalah yang paling bagus sedunia buat saya. Saya mengangguk2 saja, senyum2. Kemudian beliau menjelaskan bahwasanya di rumah tersebut tinggal 9 orang pria (berarti 1 kamar dihuni 3 orang?) dan mereka semua sangat dekat satu sama lain. Ah, tempat ini good for nothing, dalam hati saya. Saya bilang bahwa saya masih harus viewing, jadi saya akan mempertimbangkan dulu, sebelum akhirnya pria tersebut seperti setengah memaksa, kembali meyakinkan bahwa tempat tersebut adalah yang terbaik dan saya akan menyesal jika tidak langsung kasih deposit. Oh, God. Di titik ini bakat negosiasi saya benar2 keluar mencapai puncak, saya akhirnya bisa keluar dari kamar tempat saya viewing, beranjak keluar. Ternyata perjuangan belum selesai. Di ruang tamu yang penuh dengan kasur, beliau kembali mengatakan bahwa dia bisa memberikan apapun buat saya: mau masak boleh, pake kulkas boleh, mesin cuci boleh, semua boleh, bahkan hidupnya pun akan diberikan buat saya! Saya mengernyit, apa yang membuat orang ini begitu dramatis dan putus asa? Apakah hidupnya memang penuh penolakan, sehingga ia seperti tidak punya satu kualitas lain yang bisa dibanggakan? Setengah menangis, beliau menceritakan 2 orang anaknya yang sekarang sudah berusia 23 dan 26 tahun yang sudah pergi entah kemana, tidak pernah menjawab telepon, dan istrinya pun meninggalkannya. “26 years I grew them up and now this is what they do to me.. there’s no body care about me anymore so I give my life to you..” Dengan susah payah akhirnya saya keluar dari tempat itu.

HDB 5
Wanita Chinese single berusia 40an yang living alone, nggak bisa bahasa Ingrris sama sekali. Yang menarik adalah bahwa di rumah wanita ini, ada foto pria yang masih ada lilin dan dupanya, plus karangan bunga. Tampak beliau yang di foto baru meninggal. Saya nggak yakin dengan itu. Dan dia bercerita pada si agen dengan mata berkaca2. Pilu.

Ah, Tuhan. Memang berbagi cara Engkau tunjukkan buatku belajar. Saya yang tadinya condong ke HDB 2 yang sangat nyaman, kemudian memikirkan ulang HDB yang berada di segitiga cinta itu. Saya nggak keberatan sharing kamar. Jika tadinya saya membatasi diri saya atas nama privacy, saya jadi memikirkan kembali, keluarga yang nggak tidur di kamar itu, atau yang 1 whole unit di isi 9 orang. Room mate saya di segitiga cinta adalah orang Indonesia Chinese. Semoga saya nggak pernah kekurangan ide untuk menyesuaikan frekuensi saya dan dia. Apalah privacy. Tokh dipandang dari atas sana, nggak ada yang bisa kita tutupin. Dan satu doa saya : semoga semakin banyak jiwa yang terbantu. Saya membayar lebih sedikit untuk akomodasi, berarti saya harus bayar lebih banyak untuk investasi. Investasi akhirat :)

Popularity: 33% [?]

Beginilah Adanya.

Pernah nggak, merasa nggak bisa bilang apa-apa?

Nggak bisa berkelit, nggak bisa mengemukakan alasan. “Yang ada yah begini, beginilah aku, inilah yang kurasa”. Saya menyebutnya Humble. Tingkat kejujuran yang nggak bisa ditutupin dengan apapun–siapapun–bagaimanapun. Seperti bilang, “This Is It”, kayak Michael Jackson. Kejujuran yang semua orang suka. Nggak ada yang ditutupin…

This is It

This is it, here I stand
I’m the light of the world, I feel grand
Got this love, I can feel
And I know yes for sure, it is real
And it feels as though I’ve seen your face a thousand times
And you said you really know me too yourself
And I know that you have got addicted with your eyes
But you say you gonna live it for yourself
I never heard a single word about you
Falling in love wasn’t my plan
I never thought that I would be your lover
Come on baby just understand
This is it, I can say,
I’m the light of the world, run away
We can feel, this is real
Every time I’m in love, that I feel
And I feel as though I’ve known you since a thousand years
And you tell me that you’ve seen my face before
And you said to me you don’t want me hanging round
Many times wanna do it here before
This is it, I can feel
I’m the light of the world, this is real
Feel my song, we can say
And I tell you feel that way
And I feel as though I’ve known you for a thousand years
And you said you want some of this yourself
And you said you want to go with me all the while
And I know that it’s really true myself

….I never heard a single word about you, Falling in love wasn’t my plan….

Karena untuk sebuah perasaan yang dianugerahkan dengan begitu indah, rasanya memang nggak ada yang perlu ditutupin. Jangan salahkan saya jika tak menemukan alasan yang tepat. Dan–maaf–aku jatuh cinta. Beginilah adanya :)

Popularity: 38% [?]

Seminggu Di Negeri Orang

Disinilah saya sekarang. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, teman-teman, dan kekasih. Berada diantara kehidupan yang begitu terorganisir, yang saya tidak pernah pikirkan sebelumnya : bekerja dan menetap di Singapore.

Sejak 30 Agustus, saya terdaftar sebagai expat (cielah, expat, hahaha). Sejak landing di Changi pun saya sudah curiga dengan aksen Inggris warga disini : antara Chinese-India-Pakistan-Melayu. Percakapan sehari-hari pun tidak didominasi dengan kontak mata, tetapi pengamatan pergerakan mulut secara intens :)

Officer dari Park Avenue menjemput dari Changi, Indian, namanya Anand. Saya kaget awalnya, dijemput dengan Mercy E-class! :-D Trus langsung diantarkan ke Park Avenue Suites, sebuah apartemen di bilangan UE Square. Siapa yang memilih apartemen ini? Bukan saya lho, untung gratis sampai beberapa bulan ke depan (taulah ya maksudnya), hahaha.

Apa donc beda Indonesia sama Singapore? Singapore sangat terorganisir: menyeberang harus pada tempatnya, mau naik taksi harus ngantri, nggak boleh meludah sembarangan, jumlah kendaraan yang dibatasi, dll. Tapi yang paling mengusik hati nurani saya yang paling dalam adalah biaya hidup disini sangat mahal.

Di awal-awal, sebelum membeli sesuatu, saya akan menghabiskan beberapa menit pertama untuk menghitung2, kira2 barang XXX berapa ya jika dikonversikan ke Rupiah. Ternyata malah bikin pusing :) Rupiah menghilang dalam waktu sekejap. Misalnya, saya beli Carefree di Indonesia, harganya sekitar 4000an. Disini = $ 4.5, sekitar IDR 31.950. Untuk sekali makan dengan nasi, harga rata-ratanya $ 5.5, sekitar $ 39.050. Bayangkan kalau makan 2 kali sehari, berapa pengeluaran per bulan. Tapi ternyata expense terbesar masyarakat Singapura bukan pada pangan melainkan sandang. Jarang diantara penduduk yang memasak sendiri makanannya, beli saja cukup, jualan minyak goreng di negeri ini nggak akan laku, soalnya masyarakat memilih gaya hidup sehat tanpa minyak. Wow!

Dari segi lifestyle, semua orang tampak berdandan, apapun occationnya: semua dressed up. Saya sempat kaget pas kunjungan Career Talk di NTU, dalam rangka sosialiasasi Global Graduate Trainee. Cewe-cewe memakai dress, tank top, make up, dan high heels ke kampus. Lucu juga ya kalau kuliah jadi seger-seger :) Saya malah sempat berpersepsi kalau nggak ada orang miskin di Singapore. Ternyata nemu dink, nemu pengemis, di Clarke Quay, tapi baru satu itu :p

IMG_0961 Jika ditanya apakah saya betah, saya belom bisa jawab betah. Teman se-batch saya bersepuluh, dari Indonesia, Kenya, Vietnam, Nigeria, South Africa, Shanghai. International exposure yang menjanjikan tapi harus membayarnya dengan harga yang mahal : jauh dari semua, jauh dari orang2 yang dekat di hati. Kerinduan yang tak terbendung dan membengaknya tagihan telepon. Saya jadi ingin belajar pada orang2 yang ada disini, bagaimana bisa bertahan dan menikmati semuanya. Bagaimana kita bisa tetap sholat, sementara di kantor dan mall2 nggak ada mushola dan harus cari ruangan meeting yg kosong setiap sholat. Bagaimana tetap bisa puasa dengan khusyu sementara hampir semua karyawan lain nggak puasa dan suasana Ramadhan yang tak terasa.

SDC10146 Pengamen disini harus modal, soalnya ngamennya harus pake alat musik beneran, gak bisa kocrek-kocrek ala pengamen2 di negeri kita. Semua teratur, semua terorganisir, semua aman, tampaknya nggak ada copet. Tapi bukan berarti kita bisa percaya sama semua orang. Yang ini, karena saya mengalami ditipu sama seorang Ibu2 :-P

Jadi ceritanya, saya menanyakan bus mana yang harus saya gunakan jika saya harus ke Plaza Singapura dari Liang Court. Sebenarnya bisa saja saya lihat di bus map info, tapi saya nggak yakin nama jalannya. Dia pun menyebutkan “54″ dengan yakin, mantabh, dan semangat 45. Saya pun naik. Eh, sesudah rada jauh, saya semakin gelisah, koq rasanya ini bus malah belok ke kiri. Semakin jauh, semakin jauh, saya akhirnya turun dari bus. Glekh, saya tersesat di negara kecil, hahaha, nggak gue banget. Trus ada seorang India Pakistan menghampiri, saya pun menjawab pertanyaannya dengan baik, sebelum akhirnya dia memaksa saya menyimpan nomor HP nya. Dia terus mengikuti saya karena saya nggak mau. Akhirnya saya menyeberang, dan langsung naik bus lain ke arah yang berlawanan. Hari itu, akhirnya saya jalan kaki, kira2 45 menit. Alhamdulillah, nyampe apartemen dengan selamat sentausa :)

10123_159607255199_589810199_3595068_5359970_n Ohya, hal-hal lucu seputar Singapore juga banyak. Di Orchad – Takashimaya, ada sebuah toko yang menjual sex toys. Namanya House of Condom. Ada begitu banyak variasi barang2 menyerupai jamur, ups! :-P

Di Singapore, wanita yang nggak pake bra mudah dijumpai, tampaknya pake bra memang bukan bagian dari kebiasaan mereka, hahaha. Tapi yang ini masih butuh survey lebih lanjut :)

Week end kemaren, ada teman dari Indonesia yang menyeberang dari Batam, bersama rombongannya. Kerinduan makan makanan Indonesia terobati, si Kiki Bawain mie instan dan chicken wings. Ohya lupa, Tolak Angin. Di Singapore nuggetnya nggak enak, hahaha. Bahkan kebanyakan tempat2 makan Indonesia kurang bercita rasa Indonesia, mungkin karena udah terjadi assimilasi budaya juga diantara chef disini :)

Oiya, ada kah yang punya kenalan di Singapore? Kasih tau saya donc, hitung2 punya teman senasib di negeri orang :)

Popularity: 52% [?]

Bagian Ini Disebut : Bahagia

Kemudian Edo nggak pernah lupa mengingatkan agar selalu memilih untuk bahagia di situasi apapun; saat tertindas, tertekan, sedih, dizolimi, disakiti,
bahkan saat kita tidak punya pilihan lain.

***

23 April 2009. Adalah pertama kali saya menerima email dari milis Siaware tentang Unilever Future Leader Program (UFLP), dari Teh Deasy. Nggak tau kenapa, jantung saya berdebar sangat kencang, apakah ini de javu? Saya pun mengisi form lamaran. Submitted, 26 April!

4 Mei 2009, Bu Joyce dari Unilever menelepon. Katanya, besok akan mengadakan phone screening–interview awal via telepon–beliau bertanya, jam berapa saya available untuk ditelepon, dan menyarankan saya agar memilih tempat yang kondusif saat ditelepon. Saya rada bingung. Tempat paling kondusif harusnya adalah kos. Tapi pemilik kos sedang membangun satu lagi gedung kosan di depan kosan yang sekarang dan jangan tanya bagaimana berisiknya mesin2 konstruksi. Masalah lain juga muncul karena banyak pihak yang mengeluhkan sering tidak mendengar suara saya dengan jelas di telepon, oh well, mungkin HP saya memang butut :-P

Akhirnya, di hari H, saya minta tolong ke mandor dan para tukang untuk mematikan sementara mesin2 pertukangan dan pinjam HP Redha untuk menerima telepon. Tik tok, tik tok, ternyata screeningnya berlangsung lebih dari sejam. Para tukang pun bingung kenapa aba2 untuk menyalakan mesin lagi belum muncul2, Redha pun udah bolak balik lewat dari depan kamar, apakah saya udah selesai screeningnya. Saya ngobrol dari telinga kiri-telinga kanan-telinga kiri lagi-panas. Menyesal kenapa nggak pinjem earphone :( Dan menunggu kabar dengan sepenuh hati.

9 Mei 2009. Nggak sampe seminggu sejak phone screening, ada email dari Unilever! Berdebar-debar lagi, hahaha. Alhamdulillah, ternyata saya lolos, dan diundang untuk Aptitude Test. Baiklah, ternyata saya diundang untuk psikotest di psikolog yang sama dgn tahun lalu. Sama seperti tahun lalu, Edo tetap mengantar dan memberi semangat :) Kali ini saya lebih nyantai, biarpun tes panik tetap ada–Jangan tanya saya tes paniknya seperti apa :-P Psikotest kali ini rada berbeda sama tahun lalu, ada Focus Group Discussion juga, semua ngotot ngomong, cuma 10 menit, cas cis cus, ide-ide bertabrakan dan saling debat di udara. Habis FGD, psikolognya mewawancarai masing2 peserta, was really a hard battle. Pertanyaan yang paling saya ingat, Ibu psikolognya bertanya kepada saya,

“Why do you think you’ll be suitable for marketing position in Unilever?”
Saya jawab,
“I think this is the perfect time for me to be a marketer of products that I use every single day, we’ve been intimately linked”

Wkwkwk, what a gombal words, dan saya menemukan ibu psikolognya tertawa ngakak :-P

22 Mei 2009, saya kembali menerima email. Dag dig dug serrr baca doa dulu sebelum emailnya dibuka :-P Alhamdulillah psikotesnya lolos, diundang untuk mengikuti Assessment Centre di Mega Mendung, Bogor. Bogor? Saya takut kedinginan dimana kedinginan akan membuat ngantuk, plus ide-ide nggak keluar, hehehe. Saya Googling, seperti apa sih tempatnya. Di Google saya menemukan tempatnya kayak villa plus kolam renang, saya malah membayangkan tesnya akan seperti leadership training, nginep, sambil tes sambil liburan sambil bermain, hihihi.

25 Mei 2009. Berangkat jam 6.00 pagi dari Graha Unilever, saya sempat kikuk. Woow, kandidat lain sudah berkumpul disana. Dan mereka tampak hebat! Saya teringat pesan Bapak, dulu saat saya ikutan Lomba Cerdas Cermat. Katanya,

Saat kamu akan bertanding dan mengincar 1 posisi yang sama dengan orang banyak, jangan kira lawanmu itu tidak grogi. Mereka juga grogi, mereka juga takut. Bahkan bisa jadi lebih takut dari kamu. Mereka hanya menyembunyikan ketakutannya.

Edo pun berpetuah,

‘Daripada musuhan sama lawan, mending kenalin lawan”

Ayo berkenalan! Ayo berteman! Ayo kita ngobrol dan menghilangkan kekakuan! Bukankah berkenalan dengan orang2 baru selalu menyenangkan? ;)

Kita disambut sama Linh Ngo Thi Phuong, yang memberikan preview, tes hari itu akan berjalan seperti apa. All excited, all happy, all curios, all want more! Ada 5 tes hari itu, Case Study, Panel Discussion I, Presentation, Personal Interview, dan Panel Discussion II yang lebih mirip debat. Tes diselingi istirahat 10 menit. Jadilah habis tes-ke kamar mandi-minum air putih-tes lagi. Benar-benar tes yang menguras energi, ide, dan kecantikan, karena muka kusut dan nggak sempat benerin make up, hahaha! Woooghh, lega rasanya saat tes berakhir dan bisa makan Conello sepuasnya. Nyam nyamm :-P

Setelah tes selesai, saya pasrah. Ikhlas. Saya tau kandidat lain adalah orang-orang terbaik. I’ve done what I should have done, and I believe in what I’ve done. Dan saya menyerahkan semuanya ke tangan Yang Kuasa. Saya hanya berucap,

God, I need miracle. To really win, and to still be a winner if I lose.

12 Juni 2009. Saya sedang ikut dalam rombongan Suzuki ke Lampung, menghadiri pernikahan rekan sekantor Edo yang juga sudah menjadi teman saya. Sekalian jalan2. Apakah yang bisa kita lakukan selain menikmati hidup? ;) Di Lampung, sinyal Indosat saya sangat jelek. Tiba-tiba seorang kandidat, rekan satu FGD saat Assessment Centre mengabari via SMS bahwa sudah ada email dari Unilever tentang final decission. Dia bilang, sudah ada 4 orang yang keterima Marketing. Wow, what a shockbreaking news right in a sunny bright morning! Seandainya memang cuma 4 atau 5 orang yang keterima di Marketing, this will mean that I’m no longer having a great probability to be choosen as the other lucky one. Saya pun berusaha cek email via GPRS HP. Akhirnya, sesudah berulang kali mencoba sinyal jelek dan harap2 cemas, berhasil buka Gmail! Ada 2 email yang saya terima, email pertama yang tidak komplit, dan email kedua yang komplit : saya diundang untuk medical check-up!

happy Saya pun melakukan aksi banana dancing di depan lift :-D Tapi ternyata berita bahagianya nggak bertahan lama. Saya menerima email ketiga menyatakan bahwa telah terjadi kesalahan, dan email
sebelumnya di recall. Adakah saya bisa berucap sesuatu?

Sesampainya di JKT pada hari itu juga, saya menelepon HRD Unilever untuk memperjelas maksud sebenarnya. Ternyata kronologisnya begini :

1. email pertama diketik, belom selesai diketik tp nggak sengaja terkirim.

2. dikirimkan recall email untuk menarik email yang belum komplit tadi, (Tapi saya menerimanya belakangan, jadi seolah2 me-recall email yang kedua).

3. email kedua yang komplit dikirimkan

Hufftt. Sampai disini, tidakkah kamu setuju kalau saya bilang bahwa God really has the sense of humor? And there’s no price to pay it.

25 Juni 2009. Kandidat2 yang lolos diundang untuk lunch bersamaan dengan offering day. Karena tinggal medical check up, saya pun mulai mempersiapkan diri sebagai wanita karir, halah2 :-P Sebagai mahasiswa minim modal-tapi-gede-kemauan untuk-tampil-cantik-dan-adorable-saya ditemani Lia ke Gedebage, sebuah pasar baju bekas di Bandung, mau cari kemeja. Namanya juga Gedebage, lama banget nyampenya. Sedang asyik2 bercanda di dalam angkot, Erick menelepon. Ohya, Erick adalah salah seorang HRD yang belakangan namanya jadi populer diantara kandidat karena segala informasi dan update tentang proses rekrutmen berhubungan sama dia. Erick bertanya, apakah saya bisa datang ke Graha Unilever sebelum offering day. Kata Erick, kasus saya-dan Elice dari Universitas Indonesia-berbeda dan ada situasi yang harus diketahui sebelum offering day. Saya bingung, kenapa harus datang sebelum offering day? Apakah mereka mau bilang kalau saya cadangan? :-(

Akhirnya terjawab sudah semuanya. Ternyata dari kandidat yang lolos di masing2 Unilever lokal, dipilih kandidat untuk Unilever Asia (Regional). Saya untuk Marketing, dan Elice untuk Supply Chain, ditempatkan di Singapore. Ooooo Mayyy Goooodd! Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah..

Nikmat yang manakah yang bisa saya dustakan?

Setelah semua yang saya jalani. Setelah kuliah yang berliku, disaat aliran dana terhenti, yang memaksa pikiran saya bekerja lebih lama untuk memikirkan bagaimana bisa bertahan. Untuk tetap tersenyum di segala keadaan dan membuat orang berpikir bahwa saya selalu baik2 saja. Terimakasih Allah.

Saya bukan tidak pernah gagal. Saya tidak lolos seleksi P&G Agustus 2008. Saya tidak lolos seleksi BII September 2008. Saya pernah gagal tes di Unilever, Desember 2008. Setelah 6 besar, saya tidak lolos L’oreal, Januari 2009. Saya keterima di perusahaan lain tapi mereka tidak deal dengan permintaan saya, Maret 2009.

Saya percaya, Allah memang membuat kita menunggu untuk mendapatkan yang terbaik. Agar kita lebih siap dan matang. Agar kita bisa belajar dari kegagalan terdahulu. Dan saya percaya, hukum yang sama juga berlaku buat teman-teman. Jangan menyerah, selalu ada kesempatan kedua! Akhirnya, semoga curhatan panjang ini bisa menginspirasi teman2! :D

Ini adalah sebuah awal. Dimana kemudian akan hadir perjuangan lain yang tidak kalah sengit. Tetap berprasangka baik. Tetaplah memilih untuk bahagia.

Teh Deasy, terimakasih atas forward-an emailnya di milis, membuka jalan buat saya :) Kanda, terimakasih atas semuanya. Siawares, terimakasih atas orang2 luar biasa yang membuat saya tetap percaya pada kekuatan mimpi. PSIK, sekolah hidup saya. Untuk Galuh. Untuk Desti. Untuk Siska. Untuk Andri. Untuk Ika. Untuk Bimas. Untuk Agus. Untuk Surya. Dan orang2 hebat yang padanya saya bisa bercermin tentang pencapaian dan kegagalan.

Dan aku menyebut bagian ini : Bahagia :)

Popularity: 100% [?]

Hello, Ramadhan

Sixteen years ago.

The little Echi didn’t want to eat sahur, Mother couldn’t afford a better menus at that time. It was only rice, tempe, and boiled spinach. She just left dining table and didn’t eat at all. Echi had never known fasting better more than the absence of foods and drinks.

*************
food

Time goes on. Year to year. Different Ramadhan, different stories, different environment.

Here she is, now. Ramadhan 2009. Still wish for a better Ramadhan than previous, not just a way of diet, through maybe she really never wished to come to God with her holy belly :) It’s not only about losing weight, but balancing our daily spritual life. And she’s blessed to feel the hunger and thirst.

Allah promised a fast is not only a hunger strike. It submits to God’s commands. And a hunger strike that makes God submit to our demands.

Popularity: 36% [?]