Author Archive

Simple Pleasures

Wanita itu tampak bingung, dia menengadah lagi melihat langit. “Tak ada apa-apa”, pasti pikirnya begitu. Dia pasti bertanya-tanya, apa yang saya pandangi di langit malam sana. Dimana cuman ada seonggok bulan setengah penuh, pun cahayanya redup, bukan purnama yang terang benderang. Saya pun meneruskan berjalan menuju rumah. Menuju lantai 6 blok 21 Mount Faber View. Dari kejauhan, saya bisa merasakan kalau wanita itu masih bertanya2, apa yang saya nikmati di langit gelap sana.

***

Saya pernah cerita kepada seseorang tentang apa itu kebahagiaan buat saya. Lebih jelasnya, saya bilang bahwa kebahagiaan itu dibangun atas unsur-unsur kesenangan yang sederhana. Bahagia itu adalah output dari hal2 yang kita lakukan dengan senang hati, begitu sederhananya. Nah, unsur2nya ini yang matter. Nggak semua orang pake unsur yang sama. Ada yang bilang karir, uang, keluarga, kebebasan, atau hal lain. Tapi percaya nggak, ada banyak kondisi yang memungkinkan kita untuk-juga-menjadi bahagia dengan cara2 yang sederhana. Saya menyebutnya Simple Pleasures. Kesenangan yang sederhana. Kalau yang ada di kamus saya, list nya ada banyaaaaaaaaak sekali. Setiap hari pasti selalu ada saja hal baru yang buat saya bahagia.

1. Minum Teh. 2. Mandi air hangat. 3. Mencium aroma mawar putih. 4. Melihat orang lain tertawa lepas. 5. Suara gemericik air. 6. Wangi masakan Mama. 7. Memotret. 8. Bernyanyi lepas pas mandi. 9. Luluran, hahaha. 10. Sharing ke teman. 11. Melihat wajahnya Will Smith. 12. Tombo Ati nya Opick. 13. Pakai baju cantik versi saya. 14. Mencium aroma pagi. 15. Sujud panjang di sajadah. 16. Saat badan saya dilekuk2kan dan ditarik2 pas yoga. 17. Ketika berkeringat lelah dan nemu minuman dingin. 18. Ketika duduk di pojokan bus dan tenggelam dalam dunia saya sendiri. 19. Menatap hujan di luar jendela. 20. Ketika saya bangun dan menemukan kaca rumah berembun. 21. Ketika hujan dan saya duduk di ruangan yang hangat. 22. Berada di ruangan temaram dan menenangkan. 23. Diantara rak buku. 24. Ketika bos saya bilang, “Awesome!” 25. Ketika saya berada di suau daerah lain yang saya belom pernah datangin dan saya bisa berlagak seolah2 saya orang paling keren sepanjang masa. 26. Ketika saya bisa makan enak bareng orang banyak. 27. Ketika saya berada diantara adik2 saya di Ciroyom. 27. Ketika menyemprotkan “Elizabeth Arden-SunFlower” ke sekujur badan sebelom berangkat kerja. 28. Ketika matahari akan terbenam di ufuk barat dan cahayanya merona jingga. 29. Sehabis hujan. 30. Ketika menangkap anak ikan. 31. Melihat kembang api. 32. Ketika teman2 tertawa karena saya. 33. Memeluk orang2 terkasih. 34. Pake baju matching sama temen2. 35. Membelikan sesuatu buat keluarga. 36. Ketika berjalan diantara cubicle di kantor. 37. Melihat foto2 sama teman2. 38. Memandang cahaya lilin. 39. Aromatheraphy. 40. Sarapan sama brownies dan teh tarik. 41. Menatap kelip lampu jalanan. 42. Memandang jauh ke mata orang yang saya kasihi.

……1001. Dan ketika saya melangkahkan kaki keluar bus menuju rumah, memandangi rumah dari kejauhan, dan melihat bulan yang bersinar di atasnya. Biarpun nggak terang sangat, melihat bulan di langit malam selalu mengingatkan saya akan masa-masa masih mengaji di madrasah. Sebelum bulan muncul, sudah harus pulang ke rumah. Atau Kakak akan diutus buat membawa saya balik ke rumah :)

Nah! Kepikiran apa hal2 sederhana yang bisa buat Anda senang? List yuk ah! Biar hal2 kecil yang mungkin selama ini terasa jauh dan nggak punya andil apa2 dalam hidup kita, pun ternyata bisa menghadirkan kesannya tersendiri. Kesenangan yang sederhana :)

Ohya, kemarin saya nambah koleksi teh dari Mumbai, India. Seru lho rasanya. Ada kesenangan dan beradu dengan kehangatan di setiap teguk. Sedikit getir2 pedas di ujung lidah, yang berada disana hingga sementara waktu! Dan tenang sesudahnya. Acha acha! ;)

Popularity: 11% [?]

Suka Senang.

….. dan bahagia ini, akan selalu ada disini….

Singapore, 29 Juni 2010.

Popularity: 20% [?]

Unmet Frequencies

Ceritanya ingin menyembuhkan luka hati.
Jadi saja,
Pas ada yang add saya di YM, saya OK aja.
Pas dimintain no HP, saya OK saja.
Pas diajak ketemuan, saya OK saja.
Pas jalan bareng dan saya merasa nggak nyambung sama sekali, saya OK aja.
“Give him some more time “, dalam hati.
Pas saya bercanda dan dia ga pernah tertawa, saya mulai nggak OK.
Pas dia yg bercanda dan saya merasa semakin crispy, saya semakin nggak OK.
Intinya mah, kayaknya memang lebih baik mencegah daripada mengobati. Sejak awal ga sreg malah diterusin jadi berabe.
Bahkan pas berantem, untuk menyudahin masalah pun nggak ada irisan sama sekali.

Hahahaha.
Sekarang, saya benar2 nggak bisa OK2 saja.
:p

Popularity: 29% [?]

BALI. Balik lagi ah..

Papan bertuliskan ,”Miss Yessi Pratiwi” membuat saya senyum2 menemui Mas2 yang menjemput saya di Bandara Ngurah Rai. Tentu saja saya terperangah dengan wajah2 ramah, sumringah, yang, ah, saya cinta sekali-lah. Haha! “Sendiri saja Mbak?”, kata mereka. “Yup”, saya jawab. Iya, saya jalan sendiri–saat semua orang ke Bali bersama pasangan buat memadu kasih. Kakak saya bekerja di Bali tapi posisi kami berpijak di Bumi sedang nggak match, gara2 saya sempat ganti jadwal pesawat. Beliau berada di Jakarta, . Ya sudah, kapan lagi bisa hidup mandiri sendiri dan berdikari? :) Di bagian ini, saya menyebutnya–lagi lagi escape. Escape dari dunia bisnis yang penuh sandiwara. Escape dari manusia lain. Entah, mungkin dalam kamus saya sekarang, ini juga bagian dari kebebasan.

Nggak berapa lama kemudian, for once in a lifetime, saya mendengar Secret Gardennya Bruce Springsteen dari tape mobil APV yang membawa saya menuju hotel. Lagu jadul favorit saya tiba2 mengalun manis di telinga! Saya senyum2 dalam hati. Bonus yang ga disangka. Voila, bener2 rasanya Bali menyambut saya dengan cinta. Perjalanan saya kali ini pasti penuh bahagia ;)

Hari pertama-kedua-ketiga selama di Bali, saya habiskan bersama guide dari travel tour yg berbeda. Ganti2 pasangan, haha. Bangun pagi, sarapan, diculik sama mobil dan Wayan Suta sama Made Widana di hari pertama, Ketut di hari kedua, dan Kadek Boms di hari ketiga. Saya diceritain banyak hal, salah satunya tentang urutan nama anak di Budaya Bali, dimana anak pertama namanya Wayan, kedua Made, ketiga Nyoman, dan keempat Ketut. Kelima, balik lagi ke urutan pertama. Wow wow, pantas saja sepanjang saya kenalan sama orang2, namanya banyak yang sama :)

Hari pertama lihat Barong dan Kris Dance di Batubulan, lanjut ke Tohpati lihat gadis2 Bali membatik, lanjut lagi ke Celuk Gianyar lihat pembuatan emas dan perak tradisional. Next, ke ‘galeri pribadi’ Wayan Mardiana, pelukis Bali. Saya ndak sempat foto sama beliau yg tampak sibuk melayani pembeli. Tapi cukup puas ngobrol sama ponakan beliau yang pelukis juga dan mengajak saya keliling galeri. Yang berkesan selanjutnya adalah Kintamani, makan di roof top sebuah restoran dengan view Batur volcano sama danaunya yang aduhai. Nggak sampe disitu aja, seorang pria lantas menghampiri saya menawarkan jasa tattoo temporer, saya pun tergoda! Kintamani jadi saksi hadirnya kupu2 hitam yang hinggap di kaki kanan :)

Puas ke Kintamani, foto dulu di Rice Terrace, menyaksikan hijaunya lahan padi yg menyejukkan mata, lanjut ke air terjun di Gitgit. Lepas dari sana, peraduan terakhir adalah Tanah Lot, menyaksikan sunset jingga yg beradu dengan deru ombak dan hembusan angin. Sempurna. Malam itu pun ditutup dengan Kecak Dance dan dinner di tepi Pantai Lot. Energi naik 45%, blood toxicity turun 5%, wkwk.

Hari kedua dan ketiga nggak kalah seru. Lihat Kecak lagi di Uluwatu dan jadi saksi salah satu mahakarya Tuhan paling indah sejagat raya–sunsetLittle Prince pernah bilang, “When one is that sad, one can get to love the sunset“. Saya nggak sedang sedih. Tapi sunset itu seperti sanctuary, sejak zaman dimana seorang Echi kecil suka berandai2 dan menggambari dinding kamarnya dengan aneka rupa. Menyaksikan sunset seperti moment dimana kita menceritakan semua tanpa berucap sepatah kata. Semuanya terjawab, walaupun nggak ada yang bertanya. Malam kedua ditutup dengan makan di Jimbaran. Lagi2, nggak terungkap suasananya. Makan di atas pasir putih ditemani temaram lilin, deru ombak, citylight sepanjang pantai, plus bonus bintang2 yang berkerlip di langit. Adakah hal lain yang bisa menjadikannya lebih sempurna? Di hari kedua, energi naik 25%, blood toxicity turun 25% :)

Hari ketiga, harinya NusaDua. Diving dan nemuin temen2 di dasar laut, parasailing, dan ke Pulau Penyu. Baiklah–saya kasih tau sebuah rahasia. Sebenernya setiap kali masuk ke air, saya selalu takut dimakan ikan besar kayak Ikan Pauss, takut dimakan. Bagaimanapun, saya selalu menginginkan kematian yang indah (Amin), dan dimakan ikan paus bukan salah satunya, huehehe! Di akhir hari ketiga, energi naik 55%, blood toxicity turun 55%!

Akhirnya, berdekatan dengan alam-selalu menjadi stok energi positif lagi. Saya pulang dengan hati bahagia. Seandainya ada teropong yg bisa lihat kedalam hati saya sehingga transparan dari luar, mungkin kelihatan isinya adalah bunga bunga dan bintang2. Planet saya ceria kembali. Sekarang, semua bisa tumbuh subur dan bermekaran. Tapi lebih dari itu, bagian yang terkenang lekat adalah ketulusan. Orang2 Bali, yang berpikir sederhana, yang bermatapencaharian sebagai roda wisata, yang selalu bilang Om Swasti astu, yang nggak keberatan namanya sama dengan ratusan orang lain, yang tulus dan damai. Seketika saya seperti diingatkan untuk kembali ke state dimana kita nggak perlu berpikiran kompleks, takut ini takut itu. Seperti diingatkan lagi bahwa kita cuman perlu mencari hal2 sederhana dalam hidup, yang dikemudiam hari kita temukan sebagai hal yang membuat hidup kita lebih bermakna–buat diri sendiri dan orang lain. Temanya, bersahaja. Saat cukup adalah cukup, dan kita berteman dekat dengan alam.

Sesederhana itu kok, Bali. Makanya, jika saya seorang teroris yang ngebom Bali, saya pasti jadi orang paling menyesal di neraka–untuk mengakhiri hidup orang2 tulus dan mencipta kebencian dari segala penjuru dunia.

Popularity: 32% [?]

Category: Stories  Tags:  4 Comments

2nd Half of April

OK. Ini untuk setengah kedua bulan ini. Nggak mau semuanya cuman ada di pikiran. Visualisasi rasanya membuat semuanya jadi lebih nyata :)

So, within second half of this monthTerus berusaha jadi diri saya yang seutuhnya; kuat, tapi lembut. Tea pot, demi moment menyenangkan diri  setiap hari. Bali, di akhir Bulan. L.O.V.E., ah, saya selalu di dalamnya. B E B A S. Tingkatin skill negosiasi dan komunikasi. Berharap sempat potong rambut pas di Bali. Marketer, selama jadi profesi akan saya buat jadi yang terbaik yang saya bisa. Frame kacamata baru, yang kali ini kudu punya pegas, biar nggak meluncur mulu dari hidung saya. Batam, di week end minggu ini. Networking, networking, networking. Senyum, seperti yang selalu saya usahakan. “There’s A Dark Dark Wood Inside My Head”, buku best seller yang udah selesai dibaca di PageOne tapi saya pengen punya. Sepatu hitam yang elegan dan nyaman buat ngantor, buat gantiin sepatu teplek hitam lama yang baru aja minta makan. Berbagi dengan ikhlas dan ceria, kayak burung berbagi makanan. CD Classical Passion yang belom juga terbeli dari Amazone. Daftar yoga di dekat rumah saja, biar nggak pulang malem. Keinginan punya juicer yang rasanya harus dijadiin minggu ini, tentu aja berhubungan sama konsumsi makan sayur dan buah. Kemeja PUTIH lengan panjang. Update koleksi lagu di Itunes.

Berapa hari saya punya? 12 hari 23 jam 22 menit 36 detik sejak postingan ini ditampilkan ;)

Popularity: 30% [?]

There They Are.

Jane Austen pernah bilang dalam salah satu bukunya,

Friendship is certainly the finest balm for the pangs of disappointed love

Cuman, saya menemukan bahwa kata “Love” di kalimatnya bisa digantikan sama banyak kata2 lain. Passion. Appreciation. Respect. Relationship. Worship. Sacrifice. Life. Saya sih bilang, untuk setiap momen hidup, kita butuh temen. Yang pada akhirnya , teman adalah seseorang yang tidak sempurna yang mengingatkan dengan sempurna.

Terimakasih, Nicolaus. Untuk email sederhana yang sangat bermakna. Buat saya.

Popularity: 24% [?]

Altitude

Rasanya, Yang Maha Berencana memang nggak pernah kehabisan ide untuk membuat hidup kita lebih berwarna. Persis kayak sekarang ini, hidup saya dibuat fluktuatif dengan amplitudo yang membuat jantung berpacu kencang tanpa kesempatan bernafas.

Ibaratnya saya lagi berjalan di panas Matahari yang menyengat, kemudian diguyur hujan beberapa detik kemudian–tanpa tanda2 apapun. Seperti halnya juga naik kora2 di Dufan, badan dihempas dari ketinggian ke titik tertinggi ke titik terendah dimana jantung serasa berlompatan mau keluar. Drastis.

Keadaan yang harus berubah tiba2–rasanya di belahan dunia manapun sama impactnya. Perasaan gak siap. Perasaan, “Kenapa harus secepat ini, Tuhan? Dan.. kenapa harus begini?” Perasaan seolah2 dari kemarin kita diarahkan menuju ke satu path tertentu, dimana kemudian sesudah menjalaninya sepenuh hati, kita harus belok. Ke jalan baru yang asing.

Saya jadi teringat sebuah lagu yang dikasih sama seorang teman, yang intinya bilang kalau seorang manusia mungkin bisa menaklukkan hal2 tersulit di dunia dan berbangga hati dengan itu semua. Tapi tetap saja, tanpa Dia, kita nggak berarti apa2. Liriknya humble. Tapi jujur, seperti berserah diri. Ikhlas.

A man will climb the highest mountain
Fly to the moon and come back home

I stand up high in the pouring rain
Have flashing thunder on my head

A man swim the deepest ocean
Some will sail around the world

I’ll stand alone on a cemetery
Search the world of the undead
But I still won’t live Without Your Love

Adhitia Sofyan – Without Your Love

Lalu kita mendapati diri kita berjalan di suatu path, dengan saudara, dengan sahabat yang siap berada disana, dengan masalah yang buat kita lebih kuat, dengan kehilangan, dengan melepas, dengan ikhlas menjalani, dengan berserah diri, dengan berbaik sangka, dengan tidak berhenti berusaha.. dengan yang Maha Menemani :)

Popularity: 30% [?]

Pause.

Berhenti dulu dari pikiran ruwet.
Lupakan sejenak deadline dan gate timing.

Boleh kan, nggak mikirin apapun sebentar saja?
Untuk menghirup kembali aroma laut dan merasakan matahari.
Untuk berjauhan dari MRT dan menginjakkan kaki telanjang lagi di Bumi.


Pause.
Sementara saja.
Dari high heels dan laptop.
Dari market share report dan target.
Dari power point dan urusan agency.

Untuk recharged dan revived kembali. Esok hari :)

Popularity: 38% [?]

Sehari Lebih Tua

Jika dalam seminggu kita bekerja Senin-Jumat, dari Matahari terbit sampai Matahari benar2 terbenam, waktu 24 jam sehari kadang terasa berlalu begitu saja. Wiken pun ditunggu sepenuh hati, seperti anak SD menanti bel istirahat berbunyi. Lantas saya kadang merasa seperti kurang ’space’. Relung pikiran dan hati di bagian sana serasa hampa. Tidak lengkap.

Moment berangkat dan pulang kerja pun jadi kemewahan tersendiri. Duduk di pojokan bus, melarikan diri sementara dari dunia. Sambil memandang keluar, dimana gedung2, orang2, pohon2, seperti berlarian ke arah yang berlawanan. Rangkaian kehidupan demi kehidupan di sepanjang jalan yang saya lalui, seperti putaran film dengan soundtrack yang saya pilih sendiri, dengan earphone di telinga–memainkan nada2 indah yang membelai lembut. Ketika itu, banyak yang bisa terjadi dalam pikiran. Flash back. Cerita masa lalu. Ingat masakan Mama. Ingat sepatu bola adik kecil. Ingat rumah. Kangen teriak2 sama teman. Melihat pohon. Lihat sungai. Lihat air dan damainya. Sampai 6 lagu berlalu.

Begitu (mungkin) setiap hari akan berjalan. Begitu kita memulai dan mengakhiri hari, dimana kita lebih tua 1 hari dari kemarin. Tidak perlu khawatir. Iya. Tapi ada saatnya kita perlu duduk sendirian saja. Dimana kita nggak perlu mikirin orang lain, pendapat orang lain, dunia orang lain. Saya jadi ingat lirik lagu Dee, Grew a Day Older. Dia bilang,

“If everything has been written down, why worry?”

Kesimpulannya? Kita akan menua. Setiap hari. Jadi nggak usah khawatir. Duduk aja di pojokan bus. Putar soundtrack sendiri. Terbang dulu ke dunia lain. Cuekin aja orang lain. Take your time for yourself, take your space Kalau perlu, nggak usah jawab telepon atau SMS. Hihihi :)

Popularity: 38% [?]

Barbeque

Kalau orang yang mati nanti masuk neraka, akankah kita dipanggang kayak begini?
Serem ya :(

Popularity: 40% [?]