Archive for » January, 2010 «

You can Always Say No

Untuk sesuatu yang nggak kamu inginkan.
Yang nggak kamu nikmati.
Yang terasa aneh, terasa nggak nyaman.
Yang kamu rasa bukan sesuatu yang kamu cari.
Yang kalo kamu terus lakuin, kamu malah nggak bisa jadi diri kamu sendiri.

You can always say No.
You can always say No, biarpun menurut orang lain itu nggak mungkin.

Nggak ada yang nggak mungkin.
Kemungkinan sekecil apapun, berarti mungkin kan?

So, if you think really deserve it, go for it.
otherwise, if you think you dont deserve it, go say “No”

Simple, isnt it?

Popularity: 29% [?]

Category: The Pieces of Puzzles  Tags:  6 Comments

Carribean Dance

Pernah nggak punya ide, bagaimana kesepian yang sangat memuncak benar-benar bisa membuat seseorang menjadi gila? Apalagi jika hati ‘kosong’ dan detik-detik jam dilalui dengan aktivitas yang sama : bangun, bekerja, duduk di meja, menjawab email, membalas telefon, meeting, presentasi, pulang, tidur, dan besok melakukan hal yang sama. Kondisi kayakgini, nggak bisa jauh dari kalut. Mungkin ini juga yang jadi awal penyebab stress.

Saya nggak sedang stress koq. Cuma, akhir-akhir ini saya semakin menyadari, betapa hidup di negeri orang, tanpa sanak saudara dan teman, sepi rasanya. Dan akan semakin terasa sepi saat kita butuh seseorang, kita nggak menemukan seseorang pun yang bisa membuat kita cheer-up lagi barang sejenak. Sepi, saat kita dilimpahi rezeki dan nggak menemukan siapapun untuk berbagi kebahagiaan karena sekeliling kita adalah orang2 yang dompetnya sudah lebih tebal daripada buku Davinci Code, yang tentunya nggak membutuhkan traktiran. Kalau sudah begini, saya biasanya melarikan diri ke teh, musik, kopi, film, atau buku.

Carribean Nah, saya punya teh baru nih. Dapet dari Sentosa, pas jalan2 di sebuah toko yang menjual aneka produk organik dalam kemasan. Carribean Dance, judulnya. Harganya cuma $SGD 10, tapi aromanya, hmm.. Voila! Seperti halnya Carribean Dance, passionnya seperti menggugah tubuh dan pikiran untuk bertepuk-tepuk, ceria, bersemangat, dan menikmati setiap ketukan. Yang seperti bilang, “Hei, cheer up! Giliran kamu untuk menari dan menggeliat!”. Ah, nikmatnya.

Dengan tagline, “The Tea of Life”, matching banget yah dengan tugasnya sebagai penghibur dan pemberi ketenangan buat hidup saya :)
Dan seiring dengan kewajiban2 yang berkejaran dengan waktu, kenapa nggak coba menikmati teh? Menghirup aromanya, mengingat masa-masa indah bersama orang-orang terkasih dan menghadirkan mereka dalam sekejap. Dimana seketika itu sepi cuma bisa menjadi kata sifat yang ada di Thesaurus, tapi nggak ada di kamus kita :)

Popularity: 27% [?]

Too Sad To Be True

Dan kisah wanita wanita yang direndahkan. Polos, bodoh, tidak tau harus berbuat apa. Dan hanya punya airmata. Seperti saya sekarang, menangis.

***

cvcv

Dada saya begitu sesak seperti sesuatu bergejolak di dalam sana. Kali ini saya sendiri kaget, seperti saya sedang sangat sensitif, bahkan air mata menjadi sesuatu yang tumpah begitu saja. Iya, saya menangis. Bukan karena cerita patah hari atau romantika yang mendayu-dayu ala film India. Tapi film Perempuan Punya Cerita yang baru selesai saya tonton dan menyita semua ruang pikiran di otak. Sesak. Dan sesak ini nggak ada hubungannya sama keterlambatan saya nonton film ini.

Terlepas dari keberadaan Perempuan Punya Cerita yang menurut saya hanya menampilkan fenomena2 kekalahan dan kepolosan dan ketidakberdayaan tanpa adanya tendensi encouragement bagi perempuan untuk bangkit, melawan, memberontak, rasanya bagian yang masih bisa dijadikan pelajaran adalah bahwa inilah fenomena. Dan ini terjadi. Di setiap penjuru negeri, dari 4 kutub dunia, pada perempuan. Kenapa perempuan? Bahkan ketika saya masukin keyword “perempuan” di Google pun yang muncul adalah dominansi pencarian ber-asoasiasi negatif yang menjurus ke eksploitasi perempuan; bugil lah, seksi lah, mandi lah, Ck ck ck..

Jika kemudian perempuan hanya dihargai sebatas kecantikan lahiriah yang pasti akan mengendor oleh gravitasi, apakah pria masih punya spesies yang bisa menghargai wanita dengan cara yang lain? Ah, saya masih ragu.

Ini bukan kesimpulan. Dan saya tidak ingin menyimpulkan pada bagian ini.

Cheers,
2.55AM
Sambil mandangin gedung2 dibalik jendela yang lagi dibangun dan masih dikerjain aja pagi2 buta begini. Ah, ini diluar konteks. Selamat malam. Eh, Selamat pagi, maksud saya.

Popularity: 26% [?]