Archive for » September, 2009 «

Masakan Tanpa Garam

Masak tanpa garam? Kalau dulu saya menganggapnya nggak mungkin, sekarang harus percaya deh kalau ternyata, bisa-bisa aja. Screenshoot berikut tampak menggugah selera kan? ;)

SDC10474 Minggu lalu Edo datang. Saya menyebut waktu kedatangannya nggak efisien, karena saya sudah masuk kerja sejak Selasa (22/9) dan Edo masih liburan Lebaran hingga seminggu ke depannya. Nah, pas saya lagi kerja, doi iseng2 belanja ke Plaza Singapura yang letaknya persis di depan kantor, dan menyambut saya pulang dengan pernyataan, “Kanda cari garam di Carrefour nggak ada lho.. Udah ditanya juga ke petugasnya, memang gak ada!”. Malam itu, kita pun masak tanpa garam dan makan tanpa suara. Cuma saling memandang dan mengunyah. Makanannya kombinasi antara jamur-kacang panjang-tomat-cinta, jadi aja rasa cinta. Nasinya rasa nasi, tentu saja. Wakwakwak..

Minggu kemaren Edo udah pulang. Malam ini, saya pulang kantor dan buka kulkas. Masuk ke dapur, ternyata bukan cuma kenangan bermesraan selagi masak aja yang tersisa di dapur; sayuran sisa masak kemaren juga tersisa, hahaha! Jadi saja saya masak. Lumayan, malam ini nggak usah makan diluar. Biarpun nggak pake garam, rasanya lumayan enak koq! Mungkin karena sayurannya memang berasa cinta. Hahaha :D

Popularity: 50% [?]

Maaf, Aku Cuma Bisa Minta Maaf

Lebaran
Orang bisa dikenal sebagai predikat yang macam2.

Aku,
Bukan teman yang paling baik.
Bukan wanita yang patut dijadikan teladan.
Bukan sahabat yang diacungin jempol.
Bukan pacar idaman.
Bukan kakak yang sempurna.
Bukan adik yang penurut.
Bukan anak yang berbakti.
Tapi aku akan selalu membenahi diri untuk menjadi lebih baik setiap hari :)

Aku mau memandang ke depan dan memaafkan diri. Dan kalian. Dan Bandung. Dan Indonesia. Dan yang tersakiti, even if you have to heal yourself from the hurt you don’t deserve.
And since forgiving is not forgetting,
I’ll try to hurt no one again.

Minal Aidin Walfaidzin. Selamat menjadi suci kembali :)

Popularity: 42% [?]

Antara Penang Road dan UE Square

Terhampar jalan beraspal yang kita lewati setiap hari.
Kali ini, 22.45.
Kita berjalan dengan keringat membasah dan lelah,
bertukar cerita tentang hari itu.
Hingga di sudut yang temaram,
di pertengahan jalan yang tiada siapapun berada disana,
seorang pria mencegat,

“Excuse me, do U have Dollars to give me? I don’t have money to go home”
Saya dan Simpirre refleks menggeleng. Dan tancap gas, langkah seribu.

Mukanya tidak menakutkan.

Yang membuat kami berlari kemudian karena dia berdiri di pertengahan jalan panjang dan sepi.
Yang gelap, hanya dengan lampu temaram, dengan bayangan pohon sana sini.
Yang jika sesuatu terjadi dengan kami, tiada siapapun tau, kecuali vihara berwana cerah nan bisu disebelahnya.

Ah, entah kenapa aku jadi merasa berdosa.
Dia minta tolong dan aku menidakkan.

Apakah aku mulai tidak berperikemanusiaan?

Popularity: 44% [?]

Morning Soundtrack

Lagunya asyik. Iramanya poll. Cocok buat siapa saja yang energinya sedang menggebu-gebu. Atau yang pingin jingkrak2 dan nyanyi2 dulu sebelom berangkat kerja :)

Stel dengan volume maksimum sampai berdentum2. Ikutan aja iramanya, strecthing pagi2. Rasain youth elektrikmu nyetrum2 lagi. Enjoy! :D

Popularity: 39% [?]

Money Monkey

Seorang teman bertanya, “Kenapa lo nggak minta ditempatin di Indonesia aja? Lo kan belom pernah hidup di LN, jauh dari keluarga dan akhirnya lo nggak akan bahagia, segede apapun gaji lo”. Saya senyum2 saja, bersahaja. “U don’t tell others what makes them happy“, hati saya yang menjawab.

Well, week end ini adalah akhir minggu pertama saya sesudah “mencicipi” bekerja selama seminggu. Dulu kalau lagi libur, bisa jalan2 sama pacar, sama adik, atau sama temen-temen. Sekarang beda sekali : week end tetap dinanti, tapi saya nggak bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Pengorbanan kah ini namanya? Apakah ini maksud teman saya tadi?

Hei, apa yang salah dengan takdir?

Perkataan teman saya memang ada benarnya. Tapi, yuk kita bandingkan dengan kondisi kalo kita kerja di Indonesia, misalnya. Harus berangkat pagi2 banget dan pulang sesudah jam kantor supaya nggak kena macet. Seandainya saya ditempatkan di Jakarta juga mungkin saya akan menjadi bagian orang2 yang bergumul dengan kemacetan Ibukota. Habis kerja, badan capek. Besok bangun, kerja lagi. Kapan waktu buat orang2 yang dikasihi?

Well, berhentilah menganggap diri kita kuli. Kita nggak direkrut dan digaji dari apa yang kita keluhkan setiap hari. Kita nggak seperti monyet yang lantas akan kegirangan jika dikasih pisang dan berharap pisang itulah satu-satunya hal yang bisa buat bahagia. Kita bukan monyet. Yang riang gembira disaat jam pulang udah tiba dan berbenah karena sudah waktunya pulang, seolah2 pulang akan mengakhiri penderitaan hari itu dan besok menderita lagi, diakhiri dengan pulang lagi. Ini bukan dedikasi. Bukankah seharusnya kerja adalah ibadah?

LoveMoney Kalau pake kacamata personal, saya memang butuh materi. Tapi saya nggak menganggap diri saya kuli karena materi. Saya menikmati dimarahi sama Bos, itu membuat saya nggak melakukan kesalahan lagi. Saya menikmati harus berjalan kaki selama 20 menit kekantor, itu membuat kaki saya kuat. Saya menikmati semua keteraturan yang tampak tidak berkompromi, itu membuat saya disiplin. Masalahnya adalah bukan pada dimana kita bekerja, apakah di LN atau di negeri sendiri, but how we can cope with environment and encourage our self to enjoy every single thing-every little part of our time. That to be happy or not is a choice.. Disini saya bisa berteman dengan orang2 baru. Darisini saya bisa dengan mudah menyeberang ke Medan–tempat orangtua saya. Jadi, tampaknya saya masih akan betah duduk di meja saya. I love my job! I love my boss! :)

So, kapankah kita akan berhenti menganggap hambatan2 dalam hidup kita sebagai hal buruk? Yuk koreksi diri masing2 :)

Popularity: 42% [?]

Seminggu Di Negeri Orang

Disinilah saya sekarang. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, teman-teman, dan kekasih. Berada diantara kehidupan yang begitu terorganisir, yang saya tidak pernah pikirkan sebelumnya : bekerja dan menetap di Singapore.

Sejak 30 Agustus, saya terdaftar sebagai expat (cielah, expat, hahaha). Sejak landing di Changi pun saya sudah curiga dengan aksen Inggris warga disini : antara Chinese-India-Pakistan-Melayu. Percakapan sehari-hari pun tidak didominasi dengan kontak mata, tetapi pengamatan pergerakan mulut secara intens :)

Officer dari Park Avenue menjemput dari Changi, Indian, namanya Anand. Saya kaget awalnya, dijemput dengan Mercy E-class! :-D Trus langsung diantarkan ke Park Avenue Suites, sebuah apartemen di bilangan UE Square. Siapa yang memilih apartemen ini? Bukan saya lho, untung gratis sampai beberapa bulan ke depan (taulah ya maksudnya), hahaha.

Apa donc beda Indonesia sama Singapore? Singapore sangat terorganisir: menyeberang harus pada tempatnya, mau naik taksi harus ngantri, nggak boleh meludah sembarangan, jumlah kendaraan yang dibatasi, dll. Tapi yang paling mengusik hati nurani saya yang paling dalam adalah biaya hidup disini sangat mahal.

Di awal-awal, sebelum membeli sesuatu, saya akan menghabiskan beberapa menit pertama untuk menghitung2, kira2 barang XXX berapa ya jika dikonversikan ke Rupiah. Ternyata malah bikin pusing :) Rupiah menghilang dalam waktu sekejap. Misalnya, saya beli Carefree di Indonesia, harganya sekitar 4000an. Disini = $ 4.5, sekitar IDR 31.950. Untuk sekali makan dengan nasi, harga rata-ratanya $ 5.5, sekitar $ 39.050. Bayangkan kalau makan 2 kali sehari, berapa pengeluaran per bulan. Tapi ternyata expense terbesar masyarakat Singapura bukan pada pangan melainkan sandang. Jarang diantara penduduk yang memasak sendiri makanannya, beli saja cukup, jualan minyak goreng di negeri ini nggak akan laku, soalnya masyarakat memilih gaya hidup sehat tanpa minyak. Wow!

Dari segi lifestyle, semua orang tampak berdandan, apapun occationnya: semua dressed up. Saya sempat kaget pas kunjungan Career Talk di NTU, dalam rangka sosialiasasi Global Graduate Trainee. Cewe-cewe memakai dress, tank top, make up, dan high heels ke kampus. Lucu juga ya kalau kuliah jadi seger-seger :) Saya malah sempat berpersepsi kalau nggak ada orang miskin di Singapore. Ternyata nemu dink, nemu pengemis, di Clarke Quay, tapi baru satu itu :p

IMG_0961 Jika ditanya apakah saya betah, saya belom bisa jawab betah. Teman se-batch saya bersepuluh, dari Indonesia, Kenya, Vietnam, Nigeria, South Africa, Shanghai. International exposure yang menjanjikan tapi harus membayarnya dengan harga yang mahal : jauh dari semua, jauh dari orang2 yang dekat di hati. Kerinduan yang tak terbendung dan membengaknya tagihan telepon. Saya jadi ingin belajar pada orang2 yang ada disini, bagaimana bisa bertahan dan menikmati semuanya. Bagaimana kita bisa tetap sholat, sementara di kantor dan mall2 nggak ada mushola dan harus cari ruangan meeting yg kosong setiap sholat. Bagaimana tetap bisa puasa dengan khusyu sementara hampir semua karyawan lain nggak puasa dan suasana Ramadhan yang tak terasa.

SDC10146 Pengamen disini harus modal, soalnya ngamennya harus pake alat musik beneran, gak bisa kocrek-kocrek ala pengamen2 di negeri kita. Semua teratur, semua terorganisir, semua aman, tampaknya nggak ada copet. Tapi bukan berarti kita bisa percaya sama semua orang. Yang ini, karena saya mengalami ditipu sama seorang Ibu2 :-P

Jadi ceritanya, saya menanyakan bus mana yang harus saya gunakan jika saya harus ke Plaza Singapura dari Liang Court. Sebenarnya bisa saja saya lihat di bus map info, tapi saya nggak yakin nama jalannya. Dia pun menyebutkan “54″ dengan yakin, mantabh, dan semangat 45. Saya pun naik. Eh, sesudah rada jauh, saya semakin gelisah, koq rasanya ini bus malah belok ke kiri. Semakin jauh, semakin jauh, saya akhirnya turun dari bus. Glekh, saya tersesat di negara kecil, hahaha, nggak gue banget. Trus ada seorang India Pakistan menghampiri, saya pun menjawab pertanyaannya dengan baik, sebelum akhirnya dia memaksa saya menyimpan nomor HP nya. Dia terus mengikuti saya karena saya nggak mau. Akhirnya saya menyeberang, dan langsung naik bus lain ke arah yang berlawanan. Hari itu, akhirnya saya jalan kaki, kira2 45 menit. Alhamdulillah, nyampe apartemen dengan selamat sentausa :)

10123_159607255199_589810199_3595068_5359970_n Ohya, hal-hal lucu seputar Singapore juga banyak. Di Orchad – Takashimaya, ada sebuah toko yang menjual sex toys. Namanya House of Condom. Ada begitu banyak variasi barang2 menyerupai jamur, ups! :-P

Di Singapore, wanita yang nggak pake bra mudah dijumpai, tampaknya pake bra memang bukan bagian dari kebiasaan mereka, hahaha. Tapi yang ini masih butuh survey lebih lanjut :)

Week end kemaren, ada teman dari Indonesia yang menyeberang dari Batam, bersama rombongannya. Kerinduan makan makanan Indonesia terobati, si Kiki Bawain mie instan dan chicken wings. Ohya lupa, Tolak Angin. Di Singapore nuggetnya nggak enak, hahaha. Bahkan kebanyakan tempat2 makan Indonesia kurang bercita rasa Indonesia, mungkin karena udah terjadi assimilasi budaya juga diantara chef disini :)

Oiya, ada kah yang punya kenalan di Singapore? Kasih tau saya donc, hitung2 punya teman senasib di negeri orang :)

Popularity: 52% [?]