Senin (9/7) saya dan Harry sengaja korupsi waktu KP dan meluncur ke
Cerita tentang Orang Batak di film ini mengingatkan saya akan Sumatra, tepatnya Balige,
- Tidak ada pengemis. Tidak ada pengamen. Mungkin sekarang ada, mungkin juga tidak. Yang jelas, saat saya meninggalkan Balige untuk kuliah beberapa tahun lalu, tidak ada pengemis disana. Pantang menengadahkan tangan selama masih bisa bangun.
- Jarang sekali orang yang mau jadi pembantu rumah tangga (PRT). Kalau tidak ada sawah/ ladang, lebih baik merantau kesana kemari. Jadi kenek bis, sopir bis, kepala preman, dan hidup susah. Ego orang Batak memang tinggi. (See? Jadi pembantu aja nggak mau, gimana mau jadi pengemis?)
- “Anakhon i do hamoraon di au”. Anakku adalah kekayaanku. Begitulah falsafahnya orang Batak dalam menyekolahkan anak. Biar saja orangtua hidup susah, makan ikan asin setiap hari, berpanas-panas di sawah dan ladang, asal anak bisa sekolah sampai jenjang tertinggi. Balige adalah ranah Batak. Disini, tidak jarang saya menemui rumah-rumah papan hanya dengan tikar plastik/bambu, dipan kayu, sandang seadanya, pangan apalagi. Dan di dinding, foto-foto wisuda sarjana putra-putri mereka.
- Masih ada lagi : Marga dalam silsilah Batak semakin merekatkan mereka, dimana pun mereka berada.
- Tidak semua yang kamu baca ‘masih’ benar
Popularity: 5% [?]
