Archive for » June 17th, 2007«

Jalan Dago Tadi Malam

Tadi malam, saya melewati jalan Juanda-Dago. Ramai bener. Dari Circle-K depan BCA Consumer sampai Plaza Dago sekitarnya, motor-motor berderet di pinggir jalan, ada beberapa spanduk yang menandakan identitas gank motor mereka. Banyak pula mahasiswa yang ngamen dengan menghentikan kendaraan. Mobil-mobil melaju dengan kecepatan rendah, karena jalanan memang penuh. Anak gaul Bandung. Menyembunyikan identitas di balik Nama Gank Motor. Nongkrong. Duduk berbaris di pinggir jalan. Padahal tanpa mereka pun, jalanan sudah ramai.

Umm..Seandainya mereka di rumah, duduk manis membahas soal SPMB atau mengembangkan bakat. Seandainya mereka memilih menemani keluarga menonton TV atau makan bersama. Mumpung mereka tidak indekos. Mumpung mereka dekat dengan keluarga….

Itu persepsi temporer. Karena setelahnya, ada ruang hati yang bicara. “Ah, itu kan refleksi kerinduanku pada keluarga? Tidak adil rasanya jika aku menyamaratakan isi otakku dengan mereka. Mungkin kehangatan yang mereka cari memang adanya disana. Toh kebahagiaan bagi setiap orang kan berbeda-beda jenis dan sumbernya. Mungkin satu saat, aku akan jadi bagian dari mereka. Mungkin juga tidak”

Tidak ada yang pasti. Apakah semua hal dalam hidup ini bisa menjadi hal yang relative?

Popularity: 2% [?]

Relatif

Dua setengah tahun yang lalu. Harry mengajak saya makan di sebuah warung nasi goreng di Cisitu Indah. Katanya, “Nasi goreng disini enak. Elo harus nyoba!”. Benar saja. Nyam, nyam, nyam, nasi gorengnya memang enak.

Satu setengah tahun yang lalu. Harry mengajak saya makan nasi goreng lagi. Kali ini di daerah Dago atas, dekat Borma. Nyam nyam nyam. Saya rasa, nasi goreng yang ini lebih enak.

Delapan bulan yang lalu. Harry memperkenalkan saya pada sebuah warung nasi goreng lagi. Masih dekat Borma, tapi di sisi yang berbeda. “Nasi goreng special dua, Pak”, katanya ketika memesan. Pesanan pun datang. Nasi goreng disajikan dengan ati ampela, sosis, baso sapi, dan telur dadar. Kata Harry, nasi goreng ini yang paling enak. Tapi menurut saya, nasi goreng yang kedua yang paling enak. Selain bumbunya terasa, saya tidak suka nasi goreng yang terlalu banyak macam-macamnya, beda dengan Harry. Dia memang suka mencampur beberapa compliments dalam piring yang sama. Berarti : parameter kami beda variabel.

Seiring waktu, saya menemukan beberapa performansi nasi goreng yang berbeda. Seperti halnya saya menemukan hal baru dan baru lagi, yang membantu saya membandingkan beberapa hal dengan standar yang beralasan. Saat saya menemukan satu jenis nasi goreng yang baru, bisa jadi saya klaim, “Nasi goreng ini yang paling enak”. Namun, saat saya menemukan nasi goreng lain yang lebih enak, predikat itu mungkin berpindah subjek. Semakin banyak saya mencicipi nasi goreng, semakin banyak pembanding yang bisa saya ukur baik-buruknya, dan bisa jadi parameter yang saya gunakan berubah.
Engineer juga begitu. Dalam acceptance sampling, semakin banyak ukuran sample, semakin baik kualitas sample yang dihasilkan. Namun, ukuran sample banyak biasanya memakan biaya tinggi. Jadi, sepertinya memang ada hukum sebab akibat ya. Atau relativitas, mungkin? Nah, itu dia. Kita dituntut untuk berusaha lebih dan lebih lagi. Explore lebih banyak. Kalau bisa Belajar bahasa Prancis, kenapa puas dengan Bahasa Inggris? Kalau bisa jadi menteri, kenapa harus puas jadi rektor?

Dan pertanyaannya adalah : Apakah saya bisa bilang, pada dasarnya manusia menjadi tamak, karena seleksi alam? Sepertinya saya masih harus belajar menarik kesimpulan.

Popularity: 2% [?]